BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga
Korupsi Persoalan Struktural dan Sistemik, Tak Kenal Tua-Muda

Korupsi bisa terjadi lintas generasi. Artinya, korupsi tak hanya bisa dilakukan politisi tua. Namun juga tidak tertutup kemungkinan dilakukan politisi muda. Hal itu menunjukkan bahwa, selain ada persoalan moral individual, korupsi juga terkait persoalan struktural dan sistemik. 

Terjebaknya politisi muda melakukan korupsi tidak bisa dilepaskan dari struktur politik di Indonesia yang masih bekerja berdasarkan akumulasi kekuasaan dan kekayaan melalui aktivitas yang sifatnya korup. 

Misalnya dalam kasus eks Gubernur Jambi Zumi Zola. Dalam pengakuan awal ia tidak mau memberikan uang (pada anggota DPRD Jambi). Tapi ia bilang ada tekanan dari kekuatan legislatif. Di situ terlihat, aktivitas korupsi bersifat kolektif bukan perorangan. Yang dalam istilah populer kita sebut "korupsi berjamaah". 

Maka, agen-agen atau subyek-subyek politik yang menguasai perpolitikan di Indonesia rentan dengan aktivitas yang sifatnya korup. Akhirnya seringkali kalangan aktivis atau politisi muda yang masuk ke dalam ruang politik, mereka terserap dalam lingkaran praktek korupsi yang berlangsung. 

Ketika kita pahami masalahnya sistemik dan struktural, maka cara awal untuk mencari solusi persoalan korupsi harus melalui pemecahan yang sifatnya sistemik dan struktural pula. 

Namun, yang menjadi persoalan kita sekarang, masih belum kelihatan tampilnya kekuatan politik yang solid dan koheren yang sungguh-sungguh mendorong pada agenda pemerintahan yang bersih. Hal itu bisa kita lihat misalnya, sampai sekarang kita tidak menyaksikan ada parpol manapun yang bebas dari korupsi. 

Artinya korupsi telah jadi bagian dari kepentingan yang berurat akar pada kebutuhan tidak saja perorangan tapi juga kekuatan politik, termasuk partai politik untuk menghidupi dirinya dengan cara-cara yang korup. 

Bila kita melihat negara-negara yang demokrasinya sudah maju, seperti di Eropa, jawaban kenapa di sana minim kasus korupsi politisinya, adalah struktural juga. Mereka telah melalui sejarah yang panjang di mana kekuatan politik demokratik dari bawah berhasil membangun instrumen politik yang kuat dan solid untuk mendorong demokratisasi, bukan hanya pada kelembagaan, tapi juga pada corak kekuasaan. 

Di buku Why Nations Failed (Mengapa Negara Gagal) dijelaskan kenapa negara-negara Eropa Barat serta Amerika bisa lepas dari persoalan kemiskinan yang ternyata jawabannya terdapat pada solusi yang sifatnya politis. Mereka punya sejarah kekuatan politisnya punya agenda membangun pemerintahan yang bersih, demokratis, (politisi) tidak bergantung pada institusi negara dan tidak korup. 

Di Indonesia masalahnya, institusi demokrasi bekerja. Namun warisan era sebelumnya, era Soeharto, masih belum bisa diselesaikan. Kekuatan politik dan bisnis yang kita sebut kekuatan politik dan bisnis oligarki, tetap bergantung menggunakan sumber daya negara serta akses pada kekuasaan, sebagai cara mereka mempertahankan kekayaan dan tetap survive dalam pertarungan kekuasaan. 

Pada akhirnya, saya pikir, kita bisa tetap berharap pada politisi-politisi muda di Senayan dan pemerintahan nanti, namun di saat bersamaan kita tak bisa bergantung pada mereka. Artinya, harapan terhadap tatanan poltik yang bersih dan bebas dari korupsi harus ditunjang pula penguatan kontrol terhadap proses politik yang berlangsung. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF