BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)
Kreasikan Aneka Solusi dari Potensi Daerah Setempat

Terkait tol trans Jawa yang sekarang sudah tersambung sampai Jawa Timur, harus kita lihat dulu sebetulnya apa titik urgensi dari pembangunan tol trans Jawa tersebut. Tentu ditinjau dari sudut pandang yang luas pastilah jawabannya adalah kesejahteraan ekonomi.

Tetapi titik krusial jalan tol adalah pada biaya logistik. Dibangunnya tol sebetulnya untuk menjawab persoalan mahalnya biaya logistik hal mana dalam ilmu ekonomi ada proses produksi, distribusi dan sisi konsumsi. Jalan tol itu untuk menjawab sisi distribusi nya antara lain distribusi barang menjadi lebih lancer.

Dengan adanya jalan tol trans Jawa, yang paling diuntungkan adalah jalur distribusi dari segi waktu yang cepat sampai. Industri transportasi juga diuntungkan dengan kendaraan bus antar kota yang bisa terus berjalan di jalan bebas hambatan. Hal itu sekarang mulai terlihat dampaknya.

Jika di Tegal atau daerah lain di Pantura dampaknya minim, hal itu karena cara pengukurannya dari sisi produksi. Dalam jangka pendek, industi batik Pekalongan, telus asin di Brebes dan Tegal, warung makan dan hotel sepanjang Pantura memang terdampak melemah dari segi omzet. Itu karena sebagian pemakai jalan nasional non tol berpindah ke jalur tol trans Jawa, terutama kendaraan pribadi. Kalau kendaraan truk sepertinya masih belum mau masuk tol trans Jawa.

Sekarang yang harus dipahami adalah untuk membangun infrastruktur terutama jalan tol, tugas pemerintah sebetulnya bukan hanya membangun lalu selesai. Meski memang semuanya masih proses, dan jika ingin mempunyai multiplier effect yang tinggi sebetulnya merevolusi mental para pengguna jalan.

Pertama, tujuan dari dibangunnya jalan tol adalah memperlancar distribusi barang dan bukan orang. Sehingga misalnya dari segi harga jual untuk produk sayur mayur tidak akan berbeda jauh antara semarang dah Jakarta. Hanya sekarang masalahnya sebagian besar truk pengangkut barang belum semuanya mau masuk jalan tol trans Jawa sehingga biaya distribusi belum bisa diturunkan.

Sepertinya harus ada skema pemberian insentif bagi kendaraan pengangkut barang agar mau memasuki jalan tol. Apakah tarif tol bagi kendaraan pengangkuta diberi discount ataukah pemberian insentif khusus, hal itu harus dikreasikan model-model kebijakannya.

Kedua, memang untuk kondisi saat ini dampak jangka pendek adalah menurunnya omzet penjualan pelaku usaha di Pantura. Butuh strategi perekayaan pasar yang baru untuk mengatasinya. Misalnya, dengan merelokasi tempat berjualan di rest area, itu salah satu solusinya. Hal lain, mengarahkan mereka untuk go online. Tapi hal itu tentu punya tantangan yang besar soal dinamika dari penggunaan alat canggih komunikasi bagi pelaku usaha.

Satu hal yang harus dikritisi memang, kebijakan untuk tarif sewa lahan di rest area seharusnya jangan tinggi sekali atau mahal. Apalagi untuk sektor-sektor terdampak jalan tol trans Jawa.

Kalau sekadar hanya cari untung agar cepat kembali modal investasi jalan tol, maka itu artinya pemerintah tidak menyelesaikan masalah.

Seharusnya dicarikan solusi, apakah dari harga sewa lahan yang terlalu mahal maka harus diberi kebijakan baru, karena lahan itu toh milik BUMN. Kewenangan itu mestinya ada di Kementerian terkait atau pemerintah pusat.

Jadi memang harus disadari bahwa dari pembangunan tol tersebut pasti akan timbul antara lain negative impact, terbukti dari permasalahan yang melanda sebagian besar pelaku usaha di jalan Pantura non tol sekarang ini.

Upaya yang bisa dilakukan misalnya dengan me matching kan potensi yang ada. Misalnya dari rest area yang ada dibangun one stop service, dari pom bensin, resto, kuliner, cindera mata UMKM, dan berbagai produk yang melibatkan aneka produksi usaha menengah ke bawah dari lokasi terdampak jalan tol. Itu akan lebih propektif karena demand nya ada, yaitu para kelas menengah atas para pengguna jalan tol. Mereka pasti akan beristirahat di tiap rest area.

Daya tarik rest area harus dimaksimalkan dari sekadar toilet yang bersih dan toko-toko ritel modern.

Sekadar contoh, distro-distro di Amerika Serikat yang berskala besar merk terkenal, biasanya berada di lokasi luar kota dan bukan di dalam kota. Hal itu bertujuan agar ekonomi di luar kota juga ikut tumbuh.

Hal semacam itu seharusnya bisa dilakukan di Indonesia. caranya antara lain dengan mengadakan konser kebudayaan setempat di rest area tol trans Jawa, itu memungkinkan dilakukan. Jadi para pengguna jalan tol jika tertarik dengan acara yang belangsung di rest area bisa beristirahat sambil menonton pergelaran budaya setempat. itu semuanya bisa dikreasikan seperti itu.

Sekarang tinggal pemerintah pusat, apakah mau mendorong pemilik lahan dipinggir jalan tol menurunkan tarif sewanya. Jangan hanya mencari keuntungan mengejar balik modal investasi saja. Tentu saja dengan mempertimbangkan agar BUMN jangan sampai merugi.

Hal-hal di atas adalah dalam rangka mencegah terjadinya hal percuma yakni jalan tol megah dibangun, tapi perekonomian masyarakat sekitarnya banyak yang ambruk, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

M. Rizal Taufikurahman, Dr.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-2)             Perlu Revisi Undang-Undang dan Peningkatan SDM Perikanan di Daerah             Antisipasi Lewat Bauran Kebijakan Fiskal – Moneter             Perkuat Industri Karet, Furnitur, Elektronik Hadapi Resesi             Skala Krisis Mendatang Lebih Besar dari 1998