BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kriminolog FISIP UI
LGBTIQ Merupakan Pilihan dan Hak Asasi

Lesbian - gay - biseksual adalah kategorisasi yang dibuat secara sosial berdasarkan orientasi / preferensi seksual. Berbeda dengan transeksual dan transgender.

Indonesia termasuk negera yang tidak mengkriminalisasi homoseksual. Tidak ada hukum nasional yang mengatur homoseksual adalah tindakan pidana. Yang ada adalah sebagian orang, berdalih interpretasi agama/religi, mengatakan homoseksual adalah dosa, melawan kondrat.

Cara pandang ini ditegakan, dilanggengkan dan didramatisir dengan tuduhan-tuduhan tentang "pembawa penyakit yang dikaitkan dengan kebejatan” yaitu HIV/AIDS. Cara pandang terhadap HIV/AIDS pun salah besar. 

Prasangka terhadap homoseksual dan Orang Dengan Hiv Aids (ODHA), menghasilkan stigma, diskriminasi serta kekerasan. Baik fisik, psikologis maupun seksual. Termasuk pendefinisian homoseksualitas sebagai "kelainan seksual" atau penyimpang.

Term kelainan seksual dulu dikonstruksi oleh psikiater/psikolog. Tapi sejak tahun 70 (seingat saya), asosiasi psikiater/psikilog AS sudah mengeluarkan homoseksualitas  dari kategori kelainan/penyimpanan seksual. Buku saku panduan psikiatri di Indonesia-pun telah direvisi dengan mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit kejiwaan. Karena secara esensi memang tidak ada dasar untuk mendefinisikan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa/penyakit/ kelainan seksual atau penyimpangan seksual.

Homoseksual adalah keragaman seksual. Secara budaya juga bisa kita telusuri dalam teks-teks sejarah dan praktik budaya kita. Setara dengan heteroseksual, homoseksualitas bisa dipahami sebagai orientasi atau preferensi seksual. Tergantung orang-orang itu sendiri mendefinisikan keragaman seksualitasnya.

Diskriminasi dan kekerasan yang sering disasarkan pada homoseksual dan transgender, direspon dengan komitmen pemerhati, aktivis HAM level internasional yang kemudian mengadakan pertemuan di Yogyakarta dan melahirkan prinsip-prinsip Yogyakarta.

Orang-orang yang dikungkung oleh pandangan hetero – patriakhi-lah yang membangun prasangka dan kebencian terhadap homoseksual, transgender dan keragaman seksual serta gender lain yang tidak sesuai dengan konstruksi mereka tentang hegemoni seks/gender.

Dalam hak asasi manusia, menjadi Lesbian, Gay, Bisexsual, Transgender, Intersex dan Queer (LGBTIQ) adalah pilihan dan hak asasi. Bukan penyimpangan, bukan kelainan, bukan penyakit, apalagi kejahatan. (mkn)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan             Blok Masela Jangan Diserahkan Sepenuhnya Kepada Asing             Hendaknya Jangan Berhenti pada Sisi Produksi             Konsumen Kritik Layanan, Seharusnya Dapat Penghargaan             Saatnya Perusahaan Old School Transformasi ke Dunia Digital             Temuan TPF Novel Tidak Fokus