BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Masalah Strategis dan Militer
Masihkah Wawasan Nusantara Relevan dengan Visi Poros Maritim Dunia Presiden Jokowi?

Ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan untuk memenangkan kedaulatan hak integritas kita pada pulau pulau itu:

1. Terra nullius yaitu kemampuan membuktikan bahwa kita yang pertama kali menemukan dan meng-klaim pulau itu sebagai milik kita. Sehingga pendaftaran di ENGEGN merupakan langkah awal yang tepat.  Meski, sangat terlambat.

2. Uti possidetis doctrine berarti bukan hanya menemukan, tapi juga mampu merealisasikan okupasi faktual atas pulau itu. Baik secara administratif maupun eksploratif. Contoh, terbukti berpatroli rutin atas pulau itu sebagai tanda dominasi administratif, demi tegaknya kedaulatan nasional.  Sehingga, log book rotasi petugas dan patroli militer, dapat menjadi acuan kepemilikan dominasi administratif kita atas pulau itu.

3. Mengikuti gaya u line yang dikedepankan China dalam konteks Laut China Selatan berdasarkan argumentasi, kelengkapan arsip dan sejarah yang dimiliki, terkait poin satu dan dua di atas.

Ihwal kesiapan Indonesia menyosialisasikan Wawasan Nusantara ke semua negara pengguna SLOC (Sea Lanes of Communication) dan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), itu tergantung sejauh mana relevansi  Wawasan Nusantara dengan visi Poros Maritim Dunia (PMD) Presiden Jokowi?  Karena dengan visi PMD, berarti wilayah Wawasan Nusantara hanya sepertiga bagian dari kawasan yang harus dipertahankan Indonesia untuk menegakkan kepentingan nasional  ‘baru’nya.

Padahal kendala utama konsep pertahanan saat ini berasal pula dari terbelahnya bangsa ini pada dua pemahaman pembangunan kekuatan pertahanan.  1.Visi MEF (minimum essential forces) yang bersifat defensif dan inward looking. 2.Visi PMD yang bersifat ofensif dan outward looking.

Untuk memahami cara pandang itu tentu terkait: 1.Keyakinan pada kekuatan sendiri dalam aspek ruang, manusia, dan alat yang diperlukan negara PMD (militer dan industri pertahanan);  2.Hakekat utama dari fungsi pertahanan guna mewujudkan kepentingan nasional dan keberlangsungan bernegara selamanya; 3.Imbas wilayah pertahanan negara poros maritim dan dirgantara dunia di dalam konsep nawacita dua samudera, niscaya mewajibkan TNI menggeser model pembangunan kekuatan defensif menjadi ofensif.

Dalam konteks perang masa depan (untuk mempertahankan pulau atau wilayah), kekuatan militer jelas  pilar utama. Sehingga demi keutuhan wilayah tanah air dan kepentingan nasional sesuai visi PMD, Indonesia niscaya sangat menuntut karakteristik kecepatan, daya jangkau, daya kejut, dan fleksibilitas berkesinambungan dari ketiga matra TNI. (dpy)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF