BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)
Matangkan Industri Nasional

Dalam memaknai kondisi apakah saat ini Indonesia pada kondisi deindustrialisasi atau tidak, maka kita perlu melihat dulu perspektifnya. Biasanya, orang mengintepretasikan bahwa industri dan daya beli kita sedang turun apabila keduanya menunjukkan angkanya minus. Namun jika ternyata industri dan daya beli tersebut masih tumbuh dan produktif, maka premis itu gugur.

Faktanya industri kita memiliki porsi sebesar 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sejak 1987 hingga 2010 industri manufaktur kita mampu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional, dengan menyumbang di atas 20 persen terhadap PDB. Pada 2010, sektor industri manufaktur masih bisa memberikan kontribusi sebesar 25,76 persen terhadap PDB, dengan puncaknya pada tahun 2000, industri manufaktur mampu menyumbang 27,75 persen terhadap PDB. Secara umum kita bisa menyebut parameter dari pertumbuhan industri kita, yakni apabila sektor industri tersebut pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Kalau kita lihat saat ini, industri kita hanya tumbuh sebesar 4 persen. Itu angka yang drastis sekali penurunannya. Apalagi pada sektor industri kecil dan menengah kita yang diisi oleh para pelaku usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi salah satu penopang ekonomi kita, pada triwulan II-2017 hanya tumbuh 2,5 persen. Itu pertumbuhan terendah pada industri kita.

Jika kemudian perbandingannya adalah daya beli, saat ini konsumsi rumah tangga porsinya 56 persen. Kalau kita lihat, ritel adalah sektor yang paling dengan dekat dengan konsumsi rumah tangga. Pada semester I-2017, ritel kita mengalami penurunan hingga 20 persen.

Selain terjadi penurunan kontribusi terhadap PDB, industri kita menurun dalam hal kontribusi terhadap tenaga kerja. Kontribusi industri saat ini terhadap tenaga kerja hanya sebesar 13 persen. Angka ini jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan saat ini kontirbusi sektor industri terhadap tenaga kerja jauh dilampaui oleh sektor perdagangan yang mencapai 17 persen.

Jadi, kalau dilihat dari terminologinya, dengan mengurai fakta-fakta di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa saat ini di Indonesia memang telah terjadi deindustrialisasi. Karena faktanya, saat ini memang terjadi penurunan kinerja sektor industri, sekalipun masih tumbuh pada kisaran 4 persen.

Hampir semua negara yang industrialisasinya berhasil dan maju, mereka lebih dulu menumbuhkan sektor industrinya melampaui porsi rata-rata sekitar 33-35 persen terhadap PDB, baru mereka mulai menggerakkan sektor jasa. Pada porsi di atas 35 persen, berarti industri tersebut telah matang. Setelah sektor industri matang, negara-negara tersebut (by product) kemudian mengembangkan perdagangan. Seperti kita lihat Jepang, Korea, maupun China saat ini yang sektor perdagangannya begitu menguasai dunia. Sebagaimana kita lihat saat ini, produk-produk China begitu membanjiri negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Negara-negara tersebut sebelumnya telah memperkuat basis produksi terlebih dahulu.

Untuk itu, langkah seperti melakukan kerja sama dengan Eurasian Economic Union melalui penandatanganan perjanjian kerjasama aktivitas ekonomi asing (FEA) perlu dimaksimalkan. Tetapi kita tak akan bisa memanfaatkan skema kerjasama tersebut jika kita tidak menjadi negara dengan basis produksi dulu, seperti China, Korea, maupun Jepang.

Makanya, di awal pemerintah mendesain paket kebijakan stimulus yang diupayakan untuk terus didorong adalah produktivitas dan daya saing. Artinya, seluruh program kebijakan stimulus tersebut mengacu kepada upaya bagaimana meningkatkan produktivitas. Namun dalam implementasinya terjadi mismatch. Sehingga yang terjadi sekarang justru berbagai macam kebijakan perdagangan--yang seharusnya dijadikan sebagai pijakan untuk memacu produktivitas nasional--malah justru menghantam balik, yang membuat kita menjadi kalah bersaing dengan produk-produk yang masuk ke Indonesia dalam skema kerjasama perdagangan tersebut. Sementara, Indonesia belum memiliki basis produksi. (afd)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan             Blok Masela Jangan Diserahkan Sepenuhnya Kepada Asing             Hendaknya Jangan Berhenti pada Sisi Produksi             Konsumen Kritik Layanan, Seharusnya Dapat Penghargaan             Saatnya Perusahaan Old School Transformasi ke Dunia Digital             Temuan TPF Novel Tidak Fokus