BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Mau Jadi Obyek Atau Subyek

Kita punya dua pilihan menghadapi kemajuan teknologi informasi yang sangat menggucang dunia pada saat ini. Memperlakukannya sebagai peluang untuk maju atau justru melihatnya sebagai ancaman. Bagi saya, lebih baik memperlakukannya sebagai peluang untuk menghadapi globalisasi yang makin kencang dan tak terbendung.

Kita memang tak boleh menutup mata pada dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi. Salah satunya adalah makin tersingkirnya ojek konvensional karena tak mampu bersaing melawan yang daring (online). Sementara itu banyak tenaga administrasi yang terpaksa menganggur karena pekerjaan mereka 'dicuri' oleh teknologi informasi.

Selain itu, teknologi informasi juga menyebabkan arus informasi makin sulit dimonitor atau dikontrol. Akibatnya, negara negara maju bisa dengan mudah menyerap secara besar besaran  berbagai informasi dari semua belahan dunia. Informasi tersebut lalu mereka olah untuk kepetingan sendiri. Ada yang untuk bisnis, intelijen, politik, dan sebagainya.

Ketimpangan penguasaan informasi ini menyebabkan kesenjangan kekuatan ekonomi dan militer terus melebar. Akibatnya, dalam peta persaingan dunia, negara- negara sedang berkembang seperti Indonesia tampak terus mengecil di hadapan negara negara maju.

Berbeda dengan zaman dulu ketika pengumpulan informasi sangat mengandalkan operasi intelijen yang mahal dan berbahaya, sekarang tanpa mengirim intel pun mereka bisa menyerap informasi dalam skala jauh lebih besar dengan risiko jauh lebih kecil. Salah satunya, informasi tentang mobilitas dan selera makan penduduk kota kota besar Indonesia bisa dikumpulkan melalui jaringan transportasi daring yang pusat kendalinya ada di negara negara maju.

Sekarang transportasi daring bahkan sudah jauh berkembang ke berbagai bisnis dari pijat panggilan sampai finansial. Dengan kata lain, teknologi informasi dalam transportasi daring terus berkembang menjadi urat nadi perekonomian nasional.

Jadi jangan heran kalau konglomerat berkaliber dunia kini berlomba mengguyur modal ke perusahaan transportasi daring di Indonesia, baik yang lokal seperti Go-Jek maupun asing seperti Grab dan Uber. Namun tak berarti kita harus menolak kehadiran mereka. Bagaimanapun juga kehadiran mereka telah membantu peningkatan kualitas hidup masyarakat dan efisiensi ekonomi.

Dalam hal ini kita perlu mengacu pada RRC yang sangat serius membangun industri teknologi informasi secara mandiri. Hasilnya, secara bertahap tapi pasti, negara ini berubah dari sekadar obyek menjadi subyek globalisasi. (ade)
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik