BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Bloger - Pengamat Media Sosial dan Teknologi Informasi
Media Sosial Ibarat Etalase Toko

Memang ada yang bilang terlalu sering umbar kemesraan di media sosial, kenyataan sesungguhnya tak seperti (mesra) itu. Namun anggapan itu secara umum belum tentu juga benar. Tapi memang ada contohnya. Pasangan yang selalu tampak mesra di medsos ternyata bermasalah.

Meski begitu kita juga nggak bisa bilang semua orang yang berfoto mesra bermasalah. Namun secara umum, medsos membuat orang memberikan sisi terbaiknya karena yang terlihat di situ dilihat publik. Entah itu kebahagiaan, karena kita tentu ingin dilihat sebagai orang yang bahagia. Lalu, orang juga ingin terlihat sukses, melakukan kegiatan keren, yang cool. 

Jadi memang kita tak bisa melihat apa yang di-posting orang di medsos adalah 100 persen dirinya. Sosial media, apapun bentuknya, lebih seperti etalase sebuah toko. Entah gudangnya atau dapurnya berantakan urusan beda. Yang penting, tampilkan yang terbaik karena itu adalah sesuatu yang akan dilihat orang.

Bila analoginya rumah, medsos adalah ruang tamu. Tempat orang lain bertandang ke rumah, berkomunikasi. Dengan begitu kita tentu ingin memberikan kesan atau impresi orang lain yang terbaik terhadap kita.

Ruang tamu atau etalase ini bisa didesain jadi apapun yang kita mau. Artinya, bukan hanya hal positif saja yang muncul. Selain ada yang menampilkan diri sebagai orang yang pintar, ada juga yang tampil sebagai orang yang depresi.

Maka, sosial media bukan jati diri kita sebenarnya, melainkan sebuah bayangan atau impresi salah satu diri yang kita tampilkan. Oleh karena itu kita tak bisa menilai seseorang dari medsosnya saja. 

Efek negatif selalu berusaha menampilkan yang terbaik, maka ada semacam persaingan (dengan orang lain). Ada teori sosial yang disebut "keeping up with the Joneses" yakni kebiasaan membandingkan diri dengan tetangga. Keluarga Jones adalah tetangganya. Dulu kita iri melihat tetangga mobilnya baru, rumahnya lebih mewah atau anaknya lebih pintar di sekolah.

Yang jadi masalah, kalau dulu kita membandingkan hanya dengan tetangga, sekarang (di medsos) kita melihat ratusan atau ribuan orang yang kayaknya menampilkan kebahagian atau hal terbaik terus. Di medsos, setiap hari orang terlihat kerjanya travelling, belanja atau makan (yang enak dan mahal) terus.

Hal itu membuat tekanan tersendiri di batin kita, untuk kita bisa menyamai agar berada di lingkungan sosial itu. Hal seperti itu bisa menimbulkan efek depresi juga. 

Misalnya begini, bila saya seorang miskin yang tinggal di Afrika, saya tak punya pembanding orang kaya, karena semua orang di lingkungan saya miskin. Bandingkan dengan orang yang tak miskin betul, tapi tinggal di Jakarta, dan ia memantau medsos lalu melihat kok orang hidupnya bahagia terus, bisa travelling ke mana-mana.

Pada titik itu, orang Jakarta tersebut lebih tidak bahagia ketimbang orang Afrika yang miskin. Dalam rangka itu, ada orang yang menghalalkan segala cara, entah itu korupsi, menggunakan harta yang bukan miliknya, sampai juga berpura-pura di medsos. Misalnya, memakai foto orang lain di postingannya.

Itu efek dari orang seolah harus menjaga status sosialnya di medsos, sampai harus menghalalkan segala cara. Orang Indonesia sangat sadar atas status sosial (social status concern). Kenapa? Karena kita ini masyarakat yang sangat komunal. Kita sangat mementingkan pendapat orang lain atas kita. Karena kita tak mai dianggap keluar dari komunitas kita.

Wujudnya, bila berada di kelompok orang kaya semua, seseorang akan selalu berusaha (tampil) jadi orang kaya juga. Agar bisa berada di kelompok sosial tersebut. Ini juga berlaku di berbagai kelompok lain. Berada di kelompok religius, harus tampil jadi orang religius dengan memakai atribut dan simbol-simbolnya. Masing-masing kelompok punya simbol.

Kalau ditanya kenapa orang berusaha dengan berbagai cara tampil di medsos, karena orang ingin diterima di lingkungan atau kelompoknya. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF