BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia
Mengikis Kemiskinan Butuh Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh globalisasi sejak runtuhnya Uni Soviet dan terbukanya China terhadap ekonomi pasar. Kini yang jadi tantangan adalah bagian kelanjutan dari globalisasi yakni lahirnya revolusi industi 4.0 atau perubahan dari ekonomi konvensional ke ekonomi modern.

Di sisi lain Indonesia sudah jadi negara besar. Tahun 2017 Indonesia masuk ke dalam kategori The 1 Trillion Dollar Economy. Tahun ini PDB Indonesia mencapai Rp15.000 triliun, dan tahun depan diperkirakan di atas Rp16.000 triliun.

Dengan masuknya Indonesia ke dalam  The 1 Trillion Dollar Economy maka posisinya menjadi strategis di dunia, terutama di Asia. GDP Indonesia sudah berada di peringkat 14 dunia, melewati Meksiko. Pada posisi seperti ini kondisi ketenagakerjaan semakin krusial.

Semakin besar angkatan kerja maka semakin berat tugas menciptakan lapangan kerja karena kita harus mengurangi pengangguran sekecil mungkin. Untuk menciptakan lapangan kerja kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi  sebagian didorong oleh investasi. Pada triwulan II 2018 pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 persen dimana peran konsumsi masih besar. Sebanyak 56-57 persen ekonomi Indonesia dari konsumsi. Pada saatnya kita harus mengubah paradigma ekonomi Indonesia dari berbasis konsumsi menjadi lebih produktif, menjadi lebih berbasis investasi.

Kalau kita sudah dapat mendorong ekonomi berbasis investasi berarti kita juga menciptakan peluang kerja yang lebih besar, kemampuan mengurangi pengangguran yang lebih besar. Ini yang menjadi prioritas pemerintah ketika ingin mendorong  pertumbuhan ekonomi, .bukan besarnya pertumbuhan ekonomi tetapi bisa menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan ujungnya mengurangi kemiskinan.

Mengapa pertumbuhan ekonomi penting? Karena masih banyak orang yang berusaha mendikotomikan seolah-olah hanya berpikir soal pertumbuhan ekonomi, tidak berpikir mengenai kualitas pertumbuhan ekonomi, tidak berpikir mengenai pengangguran, tidak berpikir mengenai kemiskinan.

Dalam teori manapun mengurangi pengangguran itu akan mengurangi kemiskinan sebagai tujuan utama. Tetapi semua itu membutuhkan prasyarat yakni pertumbuhan ekonomi. Bagaimana kita bisa mengurangi kemiskinan atau menciptakan lapangan kerja kalau ekonomi tidak tumbuh.

Oleh karena itu ekonomi harus didorong untuk tumbuh setinggi mungkin, tetapi tetap menjaga agar penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran sama besarnya sehingga kita mempunyai pertumbuhan yang berkualitas.

Apalagi jika melihat tren pertumbuhan ekonomi ke depan sebesar 5-5,1 persen per tahun maka diperkirakan pada tahun 2040 Indonesia akan mempunyai GDP per kapita yang tinggi, bisa disetarakan dengan negara maju.

Menurut  PricewaterhouseCoopers, Indonesia pada tahun 2050 berpotensi menjadi negara keempat terbesar dunia dilihat dari ukuran ekonomi (economic size) GDP, hanya dibawah tiga negara raksasa. Ke depan dunia akan terkonsentrasi kepada The Three Giant, yakni dua di Asia, China dan India, dan AS, dan keempatnya adalah Indonesia, meskipun jarak antara Indonesia dan India cukup jauh berdasarkan ukuran GDP karena GDP Indonesia hanya sepertiga GDP India. Ini menunjukkan top three hanya di 3 negara tersebut. (sar)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Gejala Diabetes Pada Anak, Waspadalah

0 OPINI | 15 October 2019

Bau Rumput Bisa Hilangkan Stres

0 OPINI | 15 October 2019

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI

FOLLOW US

Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas