BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Mengingatkan Pada Zaman Orde Baru

Masalahnya, tak ada sanksi yang dijatuhkan terkait kecelakaan yang terjadi sehingga kesembronoan demi kesembronoan terus terjadi. Kecelakaan dianggap bisnis biasa saja. Sejak awal pembangunan memang banyak dilakukan secara sembrono karena tidak dilakukan melalui tender melainkan penunjukkan. 

Akibatnya kontraktor yang berpengalaman, dan  memiliki teknologi serta keahlian mumpuni tak dilibatkan. Pembangunan LRT adalah salah satunya. Sungguh aneh biaya baru dirundingkan setelah pembangunan berjalan. Ini mengingatkan pada zaman Orde Baru di mana rakyat diperlakukan sebagai penonton pasif.

Rakyat disuruh menerima begitu saja dan nggak perlu tahu apakah biaya pembangunannya terlalu mahal atau tidak. Pemerintah bersikap seolah biaya pembangunan infrastruktur tak berasal dari kantung rakyat.

Tidak kalah menggelikan adalah keputusan pemerintah untuk menjual infrastruktur yang sudah siap pakai. 

Para investor tentu ngakak mendengar keputusan ini karena mereka seolah diminta untuk beli kucing dalam karung mengingat pembangunan infrastuktur yang telah menelan triliunan rupiah duit rakyat dilakukan melalui penunjukan langsung.

Jelas, hal seperti ini tidak sesuai dengan etika karena mengorbankan uang rakyat untuk kepetingan pribadi. Apalagi kalau nanti terbukti kualitasnya buruk dan harganya di luar jangkauan masyarakat seperti Kereta Bandara Soekarno Hatta. (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF