BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF
Menjaga Keseimbangan Pasar Transportasi Online

Melihat perkembangan layanan transportasi online yang kian pesat, masyarakat patut bersyukur karena diberikan pilihan beragam. Jika dahulu masyarakat dihadapkan pada pilihan yang terbatas, transportasi online menghadirkan berbagai kemudahan dan keunggulan yang tidak ditawarkan oleh pemain lama. Seperti kemudahan jemput di tempat dan kemudahan pembayaran. Ini bagus untuk menumbuhkan persaingan di bisnis transportasi.

Konsumen kemudian sedikit demi sedikit beralih ke transportasi online. Ditambah penetrasi pengguna internet yang meningkat tajam selama 5 tahun terakhir menambah permintaan akan transportasi online melonjak. Belum lagi persaingan harga antar penyedia layanan transportasi online yang kian menekan transportasi konvensional.

Semakin jayanya transportasi online membuat investor, dalam dan luar negeri melirik bisnis ini sebagai investasi barunya. Hal ini membuat Go-Jek (salah satu perusahaan transportasi online) menjadi Unicorn pertama di Indonesia dengan nilai valuasi lebih dari 1,2 milliar dolar AS yang siap melebarkan sayapnya di kawasan ASEAN. Siap bersaing dengan Grab dan Uber yang sudah terlebih dahulu go international.

Dengan pendanaan yang besar ini membuat Go-Jek lebih leluasa memperkuat bisnisnya. Salah satunya dengan pengembangan teknologi dan informasi yang dimilikinya termasuk pengembangan Go-Pay. Go-Pay akan berkembang sebagai salah satu pemain uang digital yang potensi mengganggu bisnis perbankan. Bahkan Go-Pay sangat potensial dikembangkan jadi bisnis fintech yang nantinya akan ikut berkompetisi dengan layanan fintech yang saat ini juga sedang tumbuh.

Selain itu, pendanaan tersebut digunakan juga untuk "perang harga" dengan pesaing. Hal ini juga dilakukan oleh Uber yang mendapatkan suntikan dana yang juga tidak sedikit. Perilaku "bakar uang" ini yang menimbulkan kekhawatiran adanya praktek predatory pricing untuk menekan pesaingnya dari transportasi online.

Hal ini dapat dilihat dari harga yang ditawarkan ke konsumen sangat rendah. Walau berkilah itu adalah promo, namun promo yang dilakukan terlalu lama sehingga kompetitor lainnya merugi. Predatory pricing yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut akan menimbulkan efek yang bahaya bagi persaingan usaha. Dalam jangka panjang akan mematikan pesaing lainnya. 

Setelah pesaingnya gulung tikar maka dengan mudah akan menguasai pasar dan mudah dalam menetapkan harga. Namun untuk menjadi BAADD (big, anti-competitive, addictive and destructive to democracy), saya kira terlalu jauh untuk mengaitkannya, karena bisnis ini terbukti juga dapat memberikan kompetisi dengan pesaing lama yang cenderung monopolistik.

Layanan transportasi online lebih mengarah kepada two sided market atau yang biasa dikenal dengan multi sided platform. Bentuk bisnis atau pasar ini ada tiga hal: (i) menyediakan layanan yang berbeda kedua sisi pasar, yang dapat dikenai harga berbeda secara eksplisit, (ii) manfaat pengguna dari konsumen atau mitra tergantung pada tingkat pertisipasi konsumen atau mitra yang lain, (iii) platform atau penyedia layanan adalah price setters (monopoli atau oligopolistik) di kedua sisi pasar dan biasanya menetapkan harga yang seragam atau hampir seragam. Dalam hal ini, perusahaan aplikasi penyedia jasa transportasi online mempunyai dua konsumen yaitu penumpang dan mitra dimana kedua-duanya pasti ingin sama-sama untung. Yang pasti untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah hal yang mudah. Sering kali akan dikorbankan salah satu konsumen mereka untuk dapat mencapai neraca keuangan yang ideal.

Pihak yang sering dikorbankan dalam two sided market adalah pihak mitra perusahaan. Pihak mitra yang lebih mudah "diatur" daripada konsumen. Ketergantungan mitra akan layanan perusahaan lebih tinggi daripada konsumen. Mitra (untuk transportasi online) banyak yang sudah mengeluarkan modal seperti kredit kendaraan dsbnya sehingga akan berpikir panjang untuk keluar jadi mitra. Di sisi lain, konsumen masih ada transportasi lain seperti KRL, ataupun MRT atau LRT yang akan segera rampung.

Keberpihakan perusahaan transportasi terhadap mitra harus dibuat tanpa harus membuat mitra menjadi ketergantungan terhadap perusahaan transportasi online. Ini akan membuat pasar semakin kompetitif baik di pasar perusahaan-mitra ataupun perusahaan-konsumen. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik