BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Center Of Development Sudies (CDS), Tenaga Ahli Komisi IV DPR RI
Menjawab Tuduhan Sawit di Indonesia

Kelapa sawit adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Minyak sawit termasuk komoditas penting di Indonesia karena kontribusinya dalam perekonomian. Pengembangan kelapa sawit di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat sejak tahun 1970--terutama periode 1980-an--menjadikan Indonesia sebagai penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Selama ini, pembangunan kelapa sawit yang dituduh sebagai penyebab terjadinya deforestasi, kehilangan keanekaragama hayati, konflik sosial dan perubahan iklim. Tuduhan tersebut ternyata tidak benar menurut beberapa fakta dan hasil riset. Penyebab dari masalah lingkungan dan sosial tidak seluruhnya berasal dari pembangunan kelapa sawit, bahkan kelapa sawit ikut berkontribusi menjaga lingkungan dan pengurangan kemiskinan di pedesaan. Sektor kelapa sawit juga mendorong pengembangan wilayah di daerah pinggiran. Presiden Jokowi juga pernah menyatakan perkebunan sawit adalah sektor strategis  nasional dan harus terus dipertahankan. Hal ini mengisyaratkan agar pemerintah dan stakeholder kelapa sawit Indonesia perlu menerapkan langkah startegis berupa kebijakan dan startegi operasional dalam rangka pembangunan kelapa sawit berkelanjutan.

Pemerintah mempunyai target produksi 40 juta ton minyak sawit di tahun 2020 dan sudah menghitung bahwa sudah cukup dengan lahan yang sudah ada sekarang, asal produksi ditingkatkan maksimal. Pemerintah telah melihat kemampuan perusahaan besar dan petani kecil seperti apa dan ternyata cukup untuk mencapai apa yang ditargetkan. Produktivitas sawit dapat ditingkatkan melalui pengunaan benih unggul dan Good Agriculuture Practise (GAP) terutama di tingkat petani.

Produksi minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia dan Malaysia sebanyak 85 persen dari total produksi seluruh negara. Dengan membuat “Standar Global Baru Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan”, yang merupakan hasil harmonisasi antara Standar Malaysia dan Indonesia akan menjadi standar internasional baru di bidang industri minyak sawit dunia. Diharapkan standar baru yang ramah lingkungan ini dapat melawan tuduhan negatif terhadap industri minyak sawit. Khususnya kerja sama di bidang industri oleochemical dan produk turunan sawit lainnya. Peningkatan kerja sama di bidang industri hilir minyak sawit ini diharapkan dapat mengatasi skenario ekonomi global serta dampaknya terhadap permintaan produk-produk minyak sawit dari negara-negara pengimpor utama.

Untuk menjawab semua tuduhan negatif dan black campaign terhadap industri sawit di Indonesia diperlukan langkah-langkah strategis. Pertama, pemerintah harus memerintahkan kepada perkebunan rakyat, perusahaan perkebunan besar nasional dan perkebunan besar swasta untuk menerapkan  pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan dan berkelanjutan (Suistanable Development) untuk mencegah terjadinya kabut asap akibat kebakaran hutan. Hal ini sesuai dengan rencana pemerintah untuk menerapkan Zona Ekonomi Hijau (Green Economic Zone/GEZ) dan menerapkan sistem pembukaan lahan kelapa sawit (Land Clearing/LC) dengan tanpa membakar hutan (zero burning policy) kepada seluruh perkebunan kelapa sawit.

Kedua, pemerintah harus mendorong agar peningkatan produk turunan sawit diperbaiki dan ditingkatkan. Selama ini produk turunan kelapa sawit dari Indonesia lebih sedikit dibanding Malaysia atau negara penghasil kelapa sawit lainnya. Sehingga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan menambah devisa negara. Dengan strategi tersebut, masa depan sawit di Indonesia diharapkan akan menjadi lebih baik. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF