BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Mental Kompeni Vs Spirit Indonesia Inc (Bagian-1)

Sejak 1980 PDBI  selalu mensosialisasikan ide pemberdayaan Indonesia Inc mengacu kepada Japan Inc, Korea Inc, dan 4 macan Asia timur. Kata kuncinya adalah harmoni sinergi kekuatan birokrasi pengambil putusan di Jepang (MITI),  dan yang setara di Asia Timur dengan kekuatan enterpreneur swasta serta diberi peluang dan fasilitas luar biasa. Termasuk yang berbentuk semi BUMN seperti Posco di Korea, di mana Presiden Park Chung Hee memberi mandat kepada Jendral Park Tae Joon untuk membangun POSCO, dengan instruksi harus jadi top 5 pabrik baja dunia. Waktu itu Korea diperingatkan oleh World Bank ihwal kebutuhan proteksi luarbiasa. Presiden Park Chung Hee menginstruksikan, memimpin BUMN harus sama dengan memimpin perang tapi yang harus dimenangkan adalah pangsa pasar.

Nah di Indonesia, dengan beribu maaf kepada para birokrat dan korporat, mental yang menguasai BUMN Indonesia masih terbajak oleh "Kompeni Ku Klux Klan" yaitu perselingkuhan antara kriminal, koruptor dan "kudeta (pelaku)" yang maunya untung besar, kaya besar, mengeksploitasi "negara" untuk keuntungan partisan-sektarian yang dilakukan oleh rezim silih berganti, tapi intinya sama mengeskpoitasi kekayaan negara untuk kepentingan rezim berkuasa.

Setiap rezim membenarkan monopoli ala Kompeni Ku Klux KLan itu. Yang kiri (Bung Karno Sosialisme) tentu dengan  bendera Sosialisme Ekonomi Terpimpin. Tapi hasilnya adalah krismon 1965, ketika rupiah harus di sanering drastis ketiga kalinya. Tahun 1950 rupiah digunting oleh Syafrudin Prawiranegara (Masyumi), kemudian pada 1959 Juanda dan Notohamiprojo (keduanya teknokrat professional, tidak berpartai) tapi harus menembak gajah Rp1.000 cuma jadi Rp100, dan macan Rp500  jadi Rp50, serta menyita deposito di atas Rp25.000 dengan obligasi paksa 1959. Maka, pada 1965 ketika Sumarno (ayahanda Menteri Rini) dan Jusuf Muda Dalam mengganti Rp1.000 uang lama dengan Rp1 uang baru, dalam tempo tiga bulan sejak 13 Desember 1965, Bung Karno harus mengeluarkan Supersemar 11 maret 1966, karena situasi ekonomi terpuruk total.

Nah, rezim kanan Soeharto awalnya juga idealis dan muluk, seperti membuka PMA-PMDN besar-besaran. Tapi karena kemudian dimonopoli dan di jadikan rezim penumpukan kuasa monopolistik, maka berguguran satu persatu. Mulai dari Pertamina di bawah Ibnu Sutowo selama hampir 20 tahun (1957-1976), nyaris bangkrut mewariskan utang 10 miliar dolar AS. Lalu Bea Cukai harus dikontrakkan kepada SGS pada 1985 selama 10 tahun.

Orde Baru juga melakukan 5 kali devaluasi 1970,1971, 1978 oleh Ali Wardhana (pakar Berkeley mafia, Menkeu terlama 15 tahun), serta 1983 dan 1986 oleh Radius Prawiro, ekonom Rotterdam. Semuanya membuktikan bahwa rezim politik Indonesia baik Sukarno maupun Soeharto akan keok di bawah Kompeni Ku Klux Klan. Tidak jelas lagi siapa pejabat, siapa enterpreneur, siapa koruptor, siapa kriminal, karena campur aduk jadi satu tidak pernah dituntaskan. Kedua presiden itu sebetulnya menurut MPRS 1966 dan MPR 1998 harus diadili mis-manajemen dan skandal KKN nya, tapi bangsa ini menyapu di bawah karpet.

Hingga sekarang tidak jelas bagaimana pertanggungan jawab kedua rezim itu selain mewariskan utang kepada presiden yang sekarang yang harus memulai dengan kondisi yang memang tidak sehat dan tidak kuat.

Jadi sekarang ini kalau dalam sidang kabinet dipasang anatomi biopolitik, laporan kesehatan ekonomi Indonesia itu semua bagus. Ibarat pasien, kolesterol, tekanan darah,  denjut jantung, protein, karbon, semua sehat OK prima, tapi kok loyo seolah impoten tidak bisa tumbuh 7 persen. Istilah Biopolitik itu dan gambaran anatomi manusia sudah menjadi seperti baku untuk sidang kabinet. (pso)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF