BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Meritokrasi vs Kabilisme

Mengapa Indonesia berada pada peringkat 65, tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia (33), Thailand (40), Filipina (50) dalam Human Capital Index WEF 2017. Inti masalah adalah penyakit “SmS” yang mencemari karakter bangsa Indonesia.

Ukuran kemajuan nation state, seharusnya berdasarkan Meritokrasi, siapa yang paling handal, unggul dan cerdas-pintar harus diberi posisi setara dengan kualitas kapabilitas dan kinerja yang bersangkutan.

Ini berlaku untuk perorangan, grup, regu, dan seterusnya agar meritokrasi tinggi yang dimenangkan dan dihargai untuk memimpin bangsa ini dalam lomba persaingan kinerja antar bangsa.

Nah, kalau kita memakai ukuran lain, seperti ujaran kebencian yang terjadi dan menyulut insiden rasis Papua akhir-akhir ini, maka itu juga merupakan biang keladi dan akar masalah kenapa bangsa ini seolah ketinggalan dari bangsa lain.

Kita memang mengalami kemajuan, tapi bangsa lain jauh lebih maju. Penyakit “Kabilisme” atau SmS (senang melihat orang susah, sedih melihat orang sukses) itu adalah sentimen penghambat kemajuan bangsa Indonesia dalam perlombaan internasional dan kemudian tentu saja akan kalah bersaing di tingkat global, bila yang dimajukan adalah orang medioker dengan alasan “Kabilisme” tadi.

Benci, dengki, cemburu - iri kepada orang berkinerja, seperti Kabil sentimen terhadap adiknya Habil bahkan tega membunuhnya.

Inilah penyakit mental esensial yang masih menghinggapi bangsa ini, sehingga kinerja Indonesia terpuruk dibanding bangsa lain yang mungkin lebih belakangan merdeka dibanding kita yang merdeka sejak 17 Agustus 1945. 

Jadi yang perlu kita kampanyekan bukan dengan pidato, tapi dengan teladan, panutan menunjukkan kinerja unggulan, andalan membangun bangsa, memperlihatkan kinerja masing masing yang meritokratis unggul itulah tugas utama individu dan seluruh masyarakat Indonesia.

Tetapi kalau kita semua masih dihinggapi penyakit “Kabilisme” tadi, maka yang terjadi adalah mediokrasi bukan meritokrasi.

Mediokrasi ini adalah masyarakat yang dipimpin dan dihuni oleh orang medioker, orang yang biasa-biasa saja, yang tidak berkemampuan unggulan dan andalan, dalam bersaing di abad XXI ini.

Baca komentar “Stop Semantik, Munafik, Lunatik. Tunjukkan aksi otentik jiwa dan semangat Pancasila". Meritokratis dan watak unggulan, andalan kelas global. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik