BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Mitos Restu AS???

Pencekalan oleh petugas ICE (ini gabungan Imigrasi dan Bea Cukai) di bawah Dept of Homeland Security terhadap Panglima TNI yang diundang oleh Kepala Staf Gabungan AS membuktikan birokrat pelaksana di Amerika Serikat tidak kalah "dungu"nya dengan negara dunia ketiga. Bagaimana tamu Pentagon bisa ditolak oleh petugas lapangan Homeland Security? Pasti sangat ceroboh petugas homeland, tapi juga Pentagon sebagai tuan rumah benar-benar  teledor, mengapa tamunya tidak dikawal dan dijamin selamat sampai di lokasi tujuan. Jadi mitos AS negara superpower harus runtuh dengan insiden ini.

Di satu sisi, walapun komentar mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI periode 2011-2013 Sulaiman Ponto mengatakan dalam konteks ini Panglima TNI bukan ditolak ke AS. Buktinya, setelah empat jam, Gatot Nurmantyo justru diperbolehkan berangkat. "Ini kunjungan Panglima TNI tak boleh gagal. Jadi orang-orang yang terlibat di situ harus betul-betul (mengurus)".

Di sisi lain, pemerintah tentu harus menyampaikan protes terhadap perlakuan pelecehkan ini dan mumpung masih hangat sekalian disampaikan protes dan nota pengusutan investigasi kematian Johannes Marliem. Kenapa orang yang terkait  korupsi besar di Indonesia, disingkirkan secara"misterius" seolah bunuh diri oleh pemerintah resmi AS seperti FBI dan kemudian secara sepihak menyatakan JM bunuh diri. Selesai.

Pencekalan terhadap Panglima TNI tidak lepas dari politicking antar lawan politik dan NGO yang memang  punya peranan besar dalam hubungan bilateral RI- AS maupun multilateral dengan PBB dan eksistensi RI dalam diplomasi global. Donald Trump sedang menghadapi tantangan dari Demokrat untuk menjatuhkan kebijakan anti imigran radikal.

Insiden pencekalan Panglima RI ini bisa jadi senjata Demokrat untuk memaksa Trump menghapus kebijakan anti, dengan alasan kebijakan itu membuat AS tercoreng malu karena dungu dan tolol tidak bisa membedakan antara Panglima dan oknum radikal. Jadi "seorang kroco" ICE bisa membuat malu Panglima AS dan pemerintah AS,  itu tentu suatu ketololan yang pasti akan dituntaskan di AS.

Tidak ada masalah direstui atau tidak direstui. Karena foto selfie Ketua DPR Setnov bersama Trump dalam rangka kampanye pilpres AS menimbulkan kehebohan. Barangkali menantu Trump yang diam- diam bagaikan film CIA mengatur supaya tidak sampai terjadi selfie antara Panglima dengan Trump yang bisa jadi heboh seperti waktu Setnov dan Fadli Zon ketemu Trump.

Bagaimana mengusut kemungkinan ini tentu akan sulit sebab kita terbiasa "menyerah" seperti dalam kasus Johannes Marliem. Merasa ya tidah usah ribut lah, ada urusan AS-RI yang lebih besar dari sekedar seorang JM.  Ada baiknya mengingat sikap Bung Karno yang ngotot mempertahankan DN Aidit ikut masuk dan akan membatalkan acara resmi bila anggota delegasi DN Aidit ditolak tidak boleh ikut. Itu waktu Bung Karno menjadi utusan KTT KNB bertemu Presiden Kennedy bersama Presiden Mali Modibo Keita. BK menyampaikan pidato To Build The World Anew di PBB. KTT GNB waktu itu mengutus Bung Karno Keita ke AS dan Presiden Tito dan PM Nehru ke Uni Soviet karena situasi Perang Dingin memanas dengan adanya rudal Uni Soviet di Kuba. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF