BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Anggota Komisi Kejaksaan (Komjak), Kriminolog Universitas Indonesia (UI)
POLRI Harus Evaluasi Prosedur Guna Selamatkan Nyawa Polisi

Kejadian-kejadian yang menimpa anggota kepolisian seperti ditembaknya polisi yang sedang berpatroli di jalan tol atau diserangnya polisi di rutan mako brimob, mengekspose ada masalah dalam prosedur kepolisian dalam penanganan situasi darurat baik yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Hal yang perlu dilakukan adalah evaluasi prosedur yang berlaku; lakukan pelatihan terus menerus dalam berbagai skenario sehingga mekanisme pertahanan diri dapat menjadi naluri; dan latihan analisis, diskresi dan pengambilan keputusan dalam waktu sepersekian detik. Ini bisa menyelamatkan nyawa polisi dan orang-orang tidak berdosa baik dari serangan teroris maupun penjahat lainnya.

Terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa penembakan di Cipali adalah aksi yang terkait dengan gerakan teror karena polisi masih melakukan pendalaman. Karena jalan tol adalah area umum yang membuka ruang bagi segala jenis kejahatan dengan kekerasan terjadi maka berikan kesempatan kepada polisi untuk menuntaskan penyelidikannya sebelum publik menganalisis dan menyimpulkan

Adanya travel warning dari Pemerintah Australia yang dikeluhkan POLRI karena merasa pihak Konjen Australia tidak berkoordinasi terlebih dahulu juga perlu dievaluasi oleh POLRI, tidak hanya sekadar berhenti kepada keluhan semata. Polri perlu mengevaluasi tingkat kepercayaan pemerintah asing terhadap informasi yang diberikan oleh POLRI dan jaminan keamanan yang dapat diberikan kepada warga negara asing di Indonesia.

Banyaknya kepemilikan senjata api baik itu pabrikan maupun rakitan disebabkan antara lain oleh Tiga hal. Pertama: Jumlah personil POLRI tidak memadai untuk mengawasi kegiatan-kegiatan terkait dengan produksi, distribusi dan penggunaan senjata illegal.

Kedua: Ada anggota masyarakat yang kreatif ditambah dengan mudahnya mendapat pengetahuan untuk membuat senjata dari media sosial seperti internet, hanya dengan alat-alat sederhana seperti yang banyak ditemui di bengkel-bengkel atau pengrajin logam membuat produksi senjata illegal meningkat signifikan.

Ketiga: pasar gelap senjata memberikan keuntungan finansial yang besar dan cepat kepada para pengrajin atau mereka yang memiliki akses pada senjata illegal mendorong maraknya bisnis ini.

Saya sangat menentang ide masyarakat Indonesia diizinkan untuk memiliki senjata sebagai alat pertahanan diri mengingat banyaknya anggota masyarakat yang masih kurang rasional, kurang mampu mengendalikan emosi dan gampang terprovokasi. Jika dibiarkan maka kejadian seperti di Maluku beberapa tahun lagi akan sangat mungkin terjadi lagi diberbagai wilayah Indonesia dalam skala yang jauh lebih besar. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF