BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur LSM Bina Desa
Pemberdayaan Rantai Pangan

Bicara tentang pangan biasanya yang hangat diperbincangkan adalah pangan dalam bentuk beras, ubi, gandum, dan lain-lain. Tetapi yang seringkali dilupakan adalah alat produksi pangan (tanah dan air). Bagaimana mungkin tercipta kedaulatan pangan jika produsennya, petani, masih hidup ditengah konflik kepemilikan tanah dengan perkebunan, tambang dan korporasi besar lainnya?

Ribuan konflik ini tidak diatas,i sementara bagi petani yang memiliki tanah berhadapan dengan biaya produksi yang sangat tinggi karena mahalnya harga input pertanian dan bersaing dengan pangan impor.

Padahal sesungguhnya petani mampu membudidaya benih, membuat pupuk dan pestisida alami, tidak harus tergantung kepada industri.

Alam Indonesia mampu memberi cukup pangan bagi warganya jika tidak dieksploitasi hanya untuk mencari untung diri atau kelompok tertentu. Laju konversi lahan pertanian ke non pertanian sangat tinggi. Anak-anak muda desa enggan menjadi petani.

Kedaulatan pangan menjadi bagian dalam Nawacita, tetapi arah menuju kesana belum nampak. Seluruh rantai pangan mulai dari alat produksi, proses produksi, konsumsi, dan distribusi tidak diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik