BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur LSM Bina Desa
Pemberdayaan Rantai Pangan

Bicara tentang pangan biasanya yang hangat diperbincangkan adalah pangan dalam bentuk beras, ubi, gandum, dan lain-lain. Tetapi yang seringkali dilupakan adalah alat produksi pangan (tanah dan air). Bagaimana mungkin tercipta kedaulatan pangan jika produsennya, petani, masih hidup ditengah konflik kepemilikan tanah dengan perkebunan, tambang dan korporasi besar lainnya?

Ribuan konflik ini tidak diatas,i sementara bagi petani yang memiliki tanah berhadapan dengan biaya produksi yang sangat tinggi karena mahalnya harga input pertanian dan bersaing dengan pangan impor.

Padahal sesungguhnya petani mampu membudidaya benih, membuat pupuk dan pestisida alami, tidak harus tergantung kepada industri.

Alam Indonesia mampu memberi cukup pangan bagi warganya jika tidak dieksploitasi hanya untuk mencari untung diri atau kelompok tertentu. Laju konversi lahan pertanian ke non pertanian sangat tinggi. Anak-anak muda desa enggan menjadi petani.

Kedaulatan pangan menjadi bagian dalam Nawacita, tetapi arah menuju kesana belum nampak. Seluruh rantai pangan mulai dari alat produksi, proses produksi, konsumsi, dan distribusi tidak diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FX Sugiyanto, Prof.

Guru Besar Universitas Diponegoro

FOLLOW US

Kematian Petugas KPPS Tidak Ada Yang Aneh             Memerangi Narkoba Tanggung Jawab Semua Pihak             Pendekatan yang 'Teenager Friendly'             Pendampingan Tiga Tungku             Perda Dulu Baru IMB             Kelalaian Negara dalam Misi Kemanusiaan             Kematian Petugas Medis; Pemerintah Harus Berbenah             Daerah Terpencil Sebagai Indikator Keberhasilan             Resiko Petugas Sosial             Kebijakan RI Perbanyak Barang Impor Masuk