BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sastrawan, budayawan.
Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat

Bahasa berawal dari bahasa ibu kita, maka dengan bahasa itulah kita bertutur kata. Kalau di Jakarta, bahasa ibunya adalah bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. Makanya susah untuk mengharapkan anak Jakarta berbicara dalam bahasa daerah yakni Betawi. Kalau ada anak muda Jakarta yang orangtuanya misalnya berasal dari Jawa tapi si anak lahir dan besar di Jakarta, maka dia akan bertutur dalam bahasa Jakarta.

Dan, kalaupun ada keluarga di Jakarta yang terbiasa memakai bahasa daerah dalam sehari-hari, hal itu tetap tidak akan menjadi kebiasaan di level pergaulan umum karena anak akan berbahasa Jakarta di luar lingkup keluarga.

Selain itu, jika disorot dari sisi kosmopolitanismenya, Jakarta jauh lebih kosmopolit dan complicated dibandingkan kota-kota besar lain dan bukan merupakan wilayah yang kedaerahannya kuat. Jakarta berbeda dari kota besar seperti Surabaya misalnya yang basis bahasa daerahnya, yaitu masyarakat penutur asli bahasa Jawa, tidak tergusur—tidak seperti masyarakat Betawi yang semakin lama semakin terpinggirkan. Akibatnya, aspek kedaerahan dalam cara bertutur di ibukota hampir tidak bisa dipertahankan.

Kalau di ruang kosmopolitan Jakarta, posisi bahasa daerah itu memang berada di wilayah yang non-bahasa ibu bagi anak muda sekarang. Namun tidak demikian halnya dengan generasi baby boomer yang merantau dari Sumatera maupun daerah lain yang pasti berbicara dalam bahasa daerah, atau paling tidak berdialek daerah masing-masing.

Namun kita tidak bisa menyalahkan generasi muda Jakarta karena mereka terlahir di ruang kosmpolitan yang sangat kuat dan semua ragam budaya melebur. Lagipula, menurut saya, sepanjang generasi muda berbahasa Indonesia dan memakai ungkapan yang ada dialek Betawi atau Sunda, itu sudah merupakan wujud penerapan bahasa daerah.

Menyoal mengapa banyak anak muda Jakarta yang gemar berbahasa campuran, itu bukan persoalan bahasa melainkan isu gaya hidup, yakni mengenai bagaimana mereka mencari identitas baru dan mereka tampaknya lebih nyaman menggunakan istilah berbahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia. Menurut saya, itu karena gaya hidup Jakarta yang kebaratan di mana amerikanisme atau eropanisme dinilai modern dan menjadi simbol gengsi sehingga orang akan dianggap kampungan jika tidak mengerti.

Bagi mereka, memakai istilah campuran bahasa Indonesia dan Inggris terbilang hebat sebab mereka diajarkan untuk memandang bahwa yang datang dalam bahasa Inggris itu baik dan tidak kuno. Ini merupakan penghambaan terhadap hal-hal yang diungkapkan dalam bahasa Inggris dan simbol yang datang dari Barat. Ini terjadi tidak hanya di Jakarta namun di hampir semua kota besar Indonesia.

Meski demikian, ini merupakan fenomena biasa karena di mana-mana orang merasa terhormat dengan bahasa Inggris, bukan cuma anak muda. Ini bukan salah mereka karena kita tidak membuat suatu lingkungan bertutur yang membuat mereka merasa nyaman berbicara bahasa Indonesia.

Sayangnya generasi muda seolah menganggap status sosialnya lebih tinggi dibandingkan orang daerah yang memang berdomisili di daerah asalnya maupun yang datang merantau ke Jakarta. Perantau yang logat kedaerahannya masih medok dianggap orang baru dan cara bicaranya harus berubah menjadi seperti mereka kalau mau dianggap maju. Akibatnya, tindak tutur orang banyak berubah.

Hal ini juga berujung pada terbentuknya mentalitas pada banyak orang yang menganggap bahwa bahasa anak Jakarta adalah bahasa hebat dan maju. Sekarang banyak yang berbicara sok bergaya Jakarta dengan menggunakan istilah gue dan lo di Surabaya dan kota besar lainnya, tapi logatnya medok.

Walau begitu, kita tidak bisa mengatakan bahwa fenomena ini merupakan suatu kemunduran sebab ini merupakan kuasa yang tidak sengaja diciptakan di kota-kota besar. Oleh sebab itu, wacana pindah ibu kota dirasa penting supaya dari aspek bahasa, Jakarta tidak terlalu berkuasa karena hampir semuanya dikuasai Jakarta bahkan termasuk bahasa.

Namun, jika ini masih dianggap sebagai suatu kemunduran, maka satu-satunya cara untuk merawat bahasa daerah ialah dengan menjadikannya bahasa ibu. Dalam hal ini, bahasa ibu Jakarta adalah bahasa Betawi. Dengan kata lain, bahasa Betawi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Konservasi bahasa daerah pun bisa dilakukan untuk menjaga eksistensinya. Misalnya di masing-masing keluarga yang aslinya non-Betawi atau memang tidak berasal dari Jakarta, para orangtua harus membiasakan diri untuk memperkenalkan bahasa ibunya kepada anak-anaknya. (sfc)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek