BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Pengusaha Harus Aktif Lobi AS

Semua negara di luar China mencari peluang sebagai dampak dari perang dagang AS dan China. Di sini memang ada peluang. Namun perlu dilihat dulu barang China apa saja yang dikenakan tarif bea masuk oleh AS, apakah Indonesia memproduksinya.

Dari 10 barang utama China yang dikenakan tarif bea masuk sebesar 25 persen oleh AS senilai 250 miliar dolar AS sesuai dengan yang telah ditetapkan, hanya wooden furniture yang mungkin bisa dimasuki, karena Indonesia memproduksinya dan produk China tersebut dikenai tarif bea masuk ke AS. Namun apakah produk lain yang tersisa juga diproduksi Indonesia?

Indonesia harus mencermati barang-barang apa saja yang berasal dari China yang dikenakan tarif bea masuk yang tinggi oleh AS.  Syaratnya, barang-barang tersebut sudah diproduksi dulu sebelumnya di Indonesia, kalau mau meraih peluang menggantikan produk China. Jika belum memproduksinya bagaimana Indonesia bisa menggantikan produk China yang dikenakan tarif bea masuk tinggi oleh AS?

Selain itu, semua negara mengincar peluang dari adanya perang dagang China-AS seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Dibandingkan dengan Vietnam, Indonesia kurang optimal dalam mengikat kerja sama perdagangan dengan AS.

AS mengeluarkan Generalized System of Preferences (GSP). Dengan mendapatkan GSP  maka akan mudah memasukkan produk ke pasar AS. Namun Indonesia tidak mempunyai GSP dengan AS, tidak ada perjanjian menyangkut fasiltas tersebut.  Berbeda dengan Vietnam yang mempunyai perjanjian itu secara bilateral.

Indonesia harus  mendapatkan fasilitas GSP lebih dulu untuk bisa menembus pasar AS agar produk Indonesia mudah masuk ke Negara Paman Sam.  Walaupun ada konsumen barang Indonesia di AS, harganya menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan produk dari Vietnam karena terkena tarif yang lebih tinggi.

Indonesia dapat meminta orang-orang yang kenal dan memiliki lobi yang baik dengan pejabat di pemerintahan AS untuk mendapatkan fasilitas GSP.  Ada pengusaha Indonesia yang membeli rumah Presiden AS Donald Trump yang bisa dimanfaatkan untuk melobi.

Banyak negara yang mengincar peluang pasar di AS yang tidak dimasuki China lagi, tinggal bagaimana Indonesia bisa diantara mereka mendapatkan order dari konsumen di negara adi daya tersebut.  Order ini bukan government to government tapi business to business. Pelaku usaha yang harus lebih aktif, bukan hanya pemerintah.

Pemerintah mungkin hanya bisa menfasilitasi untuk mendapatkan GSP. Namun ketika GSP diperoleh, keputusannya tetap pada pelaku usaha di AS, apakah mereka mau membeli produk dari Tanah Air. Di sini peran lebih besar ada pada pelaku usaha dibandingkan pemerintah.

Presiden Joko Widodo mengajak pengusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi, memang ada peluangnya. Namun sejauh mana pelaku usaha di Indonesia bisa memanfaatkan peluang dari adanya perang dagang China-AS.

Pemerintah tidak banyak memiliki peran, kecuali memfasilitasi pertemuan antarpengusaha. Pembeli wooden furniture di AS adalah Wall Mart sehingga pengusaha nasional perlu melobi perusahaan itu untuk membeli produk dari Indonesia.  Pemerintah AS tidak bisa memberikan instruksi  kepada Wall Mart untuk membelinya. (sar)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan             Blok Masela Jangan Diserahkan Sepenuhnya Kepada Asing             Hendaknya Jangan Berhenti pada Sisi Produksi             Konsumen Kritik Layanan, Seharusnya Dapat Penghargaan             Saatnya Perusahaan Old School Transformasi ke Dunia Digital             Temuan TPF Novel Tidak Fokus