BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dewan Pakar PA GMNI
Penolakan Gatot: Politik Elektoral atau Deception Politics?

Pada saat kampanye, corak Trump cenderung berciri seorang penganut doktrin "mc Monroe", semacam doktrin chauvinisme ala AS. Sebagaimana pernah dilakukan oleh Presiden Roosevelt, Kennedy, dan Reagan. Amerika untuk AS. Saat kampanye, Trump seakan mengoreksi habis-habisan kebijakan Obama yang cenderung humanis dan bersahabat dengan negara-negara berkembang yang tidak kaya. Obama dituding melakukan pembiaran atas keterpurukan ekonomi (deglorifikasi) AS. Terutama saat berhadapan dengan China. Bahkan saat memimpin pun, arah kebijakan Trump tambah terlihat konkrit dalam melindungi kepentingan kapitalismenya. Pada era sebelumnya, AS selalu hadir dan cenderung intervensif di setiap sudut dunia yang bergejolak. Kini, di era Trump, campur tangan AS seakan tidak begitu kentara bahkan nyaris tidak peduli dengan konflik-konflik kawasan. Trump seakan menyibukkan pemerintahannya untuk fokus kepada urusan perbaikan kekuatan ekonomi domestiknya. Untuk bangkit menjadi super power kembali seperti era sebelumnya.

Penolakan sesaat Jenderal Gatot yang akan bertandang ke AS, sejauh ini dibaca sebagai  "opsi" Trump jelang pilpres 2019 dan ada kaitannya dengan image Jenderal Gatot pro Islam garis keras. Benarkah demikian? Bila mengacu kepada teori Clash of Civilization-nya Huntington yang membagi 3 pemain utama percaturan ekonomi dan pusat  pergolakan global: OBOR-Tiongkok; Liberal-Barat; dan Khilafah-Islamisme, maka hal itu bisa jadi benar. Bahwa Trump sedang menjalankan skenario "proxy-war" dalam memenangkan perang peradaban segitiga tersebut.

Kasus Gatot mungkin hanya riak kecil dalam gelombang besar yang bisa saja akan datang menggulung dan membesar. Mungkin karena perhatian publik di Indonesia sedang disedot habis-habisan oleh isu intoleransi dan radikalisme berbasis SARA, maka pencekalan sesaat Gatot itu lantas dikaitkan dengan fakta kedekatan Gatot dengan tokoh-tokoh bahkan gagasan yang diusung oleh kelompok Islam garis keras. Jika pencekalan itu adalah "clue" dari sebuah skenario besar, maka pasti akan ada lanjutannya. Kita lihat saja apa yang akan terjadi kemudian.

Namun yang terpenting bagi sebuah bangsa berdaulat seperti kita, adalah tetap teguh dan setia kepada kepentingan nasional yaitu menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur!

Masa sih kita tidak pernah percaya apa yang diucapkan Bung Karno tentang JASMERAH. Jangan sekali-kali melupakan sejarah! Keledai saja tak mau terantuk pada batu yang sama. Apalagi kita jelas-jelas punya ideologi yang selalu digdaya namun acap diabaikan oleh para penyelengara negara dan warganegara, yakni Pancasila! Yang tahun 1960-an pernah dikumandangkan BK di negaranya Trump. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF