BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Managing Director Indonesia Sehat Amira, Ketua Gerakan Hidup Sehat (GHS)
Perlu Bergandeng Tangan untuk Mengawal Generasi Muda

Kami menaruh perhatian khusus terhadap tumbuh kembang anak dengan mengajak orang tua untuk aktif berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Memberikan informasi yang dibutuhkan oleh anak sesuai dengan porsi yang dibutuhkan. Jangan sampai nanti anak dengan rasa ingin tahunya yang besar mengambil informasi dari media internet.

Salah satu informasi yang penting diberi tahukan kepada anak adalah seputar pendidikan seks atau kesehatan reproduksi sesuai dengan usia anak. Akan berbahaya jika anak mencari informasi tersebut melalui media internet. Bisa jadi anak justru terjebak ke dalam bahaya pornografi. Di dalam otak manusia, khususnya bagian tengah depan, ada yang namanya Pre Frontal Cortex (PFC). Ini yang membedakan manusia dengan hewan. PFC adalah bagian sangat istimewa dan menjadi pusat kendali karena berfungsi sebagai pusat pengembangan dan pengambilan keputusan.

Kecanduan dan khayalan akibat pornografi mengakibatkan produksi hormon dupamim yang berlebihan. Jika dupamim merendam PFC, akibatnya seseorang kehilangan kemampuan untuk mempertimbangkan suatu hal (baik atau buruknya sesuatu). PFC bisa rusak fungsinya akibat dupamim yang diproduksi secara berlebihan. Menurut Donald Hilton Jr (seorang dokter ahli bedah otak), otak yang rusak akibat pornografi jika difoto dengan Magnetic Resonance Image (MRI) hasilnya akan sama dengan kerusakan otak akibat kecelakaan. Ia juga mengatakan jika kerusakan otak akibat narkotika hanya terjadi di tiga bagian, akibat pornografi kerusakan terjadi di lima bagian otak.

Tetapi kerusakan PFC pada anak masih bisa diobati, direkonstruksi ulang. Ini karena otak anak masih mengalami pembentukan. Untuk kembali memperbaiki PFC pada otak anak, perlu menanamkan hal-hal yang baik. Ditanamkan akhlak dan perilaku yang baik. Orang tua memiliki peranan penting dalam menghentikan kecanduan akibat narkolema (narkoba lewat mata) yaitu pornografi, yang bahayanya sama dengan kecanduan narkoba.

Kecanduan pornografi membuat anak bisa terjerumus ke dalam seks bebas. Ini bisa berdampak kehamilan yang tidak diinginkan/di luar nikah. Jalan pintasnya adalah aborsi. Di Indonesia dalam setahun terjadi dua juta kasus aborsi, dan sebagian besar dilakukan oleh remaja dengan cara yang sangat membahayakan keselamatan nyawa mereka. Sudah ada hukum yang mengatur pelaku aborsi dan orang yang ikut serta (mengantarkan, menunjukan tempat, dan memaksa melakukan aborsi), yaitu KUHP Pasal 346 dan 347.

Untuk mencegah anak-aak kita terjerumus ke dalam bahaya narkoba, narkolema (pornografi), pornoaksi dan aborsi tanpa rekomendasi medis, sebagai orang tua kita perlu berperan aktif. Bukan hanya aktif mengawal anak-anak kandung kita atau kerabat kita saja, tetapi anak-anak yang ada di sekeliling kita. Kita bukan hanya menjadi orang tua biologis dari anak-anak kandung kita, tetapi kita juga perlu menjadi orang tua sosial bagi anak-anak di sekitar lingkungan kita. Bergandeng tangan mengawal generasi muda yang menjadi harapan masa depan bangsa. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!             Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian             Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong