BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Jurusan IESP, Fak. Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman.
Perlu Jaminan Pasar bagi Pembudidaya Bersertifikat

Program pembinaan dan sosialisasi bagi perikanan budidaya dan pengolahannya telah dilakukan pemerintah, namun dirasa masih sangat kurang. Pelaku nelayan budidaya memiliki latar belakang pendidikan yang masih rendah, konvensional dengan kondisi Ekososbud berbeda-beda dan spesifikasi penanganan tipe dan luas kolam/tambak yang beragam pula.

Permasalahan dalam implementasi CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) oleh nelayan dan petambak, di antaranya, kurang adanya kesadaran dan komitmen akan pentingnya penerapan konsep CBIB dalam upaya meningkatkan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Koordinasi antar sektor di pemerintah kerap kali menjadi kendala teknis dalam implementasi program CBIB dikarenakan masih minimnya tenaga penyuluh, infomasi, dan komunikasi.

Perlu dilakukan pembinaan dan sosialisasi tentang kebijakan sertifikasi CBIB terhadap semua stakeholders yang terlibat dalam implementasi program. Hal yang dilakukan dapat berupa up date informasi ataupun wacana terhadap hal–hal baru, yang menjadi isu terkini dalam masalah yang terkait pada program CBIB. Melalui kesinambungan pembinaan dan sosialisasi maka diharapkan akan ada peningkatan kualitas fasilitator dan auditor, serta kesadaran dalam hal pelaksanaan kegiatan budidaya yang bertanggung jawab (responsible fishers) dan berkelanjutan (sustainable).

Minimnya peminat untuk memperoleh sertifikasi CBIB antara lain disebabkan oleh kurang adanya kesadaran dan komitmen para pelaku, guna mewujudkan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanannya. Diperlukan penerapan sistem reward dan pengakuan jaminan kesetaraan berkualitas global bagi yang telah memperoleh sertifikasi CBIB. Sistem reward disini adalah semacam jaminan pasar (di dalam dan luar negeri) oleh pemerintah bagi pembudidaya yang telah bersertifikat (termasuk di dalamnya perbedaan harga antara hasil dari nelayan dan petambak yang bersertifikat dengan yang tidak bersertifikat).

Sebaiknya sertifikasi CBIB diterbitkan oleh lembaga sertifikasi produk seperti IndoGAP. Petugas Dinas Kelautan dan Perikanan hanya sebagai fasilitator, sehingga proses sertifikasi akan lebih independen. Sertifikasi IndoGAP harus mengacu pada FAO Guidelines, GlobalGAP, dan Best Aquaculture Practises guna menjamin sistem mutu nasional agar dapat berdaya saing pada pasar regional, nasional dan internasional. Sertifikasi CBIB dan IndoGAP memiliki empat aspek prinsip dasar yaitu : aspek teknis, aspek manajemen, aspek keamanan pangan, dan aspek lingkungan.

Prioritas harus dilakukan agar implementasi kebijakan program dapat mendukung upaya budidaya perikanan berkelanjutan di Indonesia. Kegiatannya antara lain didasarkan pada upaya pemerintah untuk terus memberikan penyuluhan yang bersifat edukatif bagi yang masih menggunakan metode konvensional. Dibutuhkan kerjasama antar pemerintah dan stakeholders.

Strategi lainnya dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki stakeholders guna menangkap peluang yang ada, antara lain membangun visi dan misi bersama antar birokrasi di Kementerian KKP, misalnya shrimp club, praktisi lingkungan, universitas, dan kelompok pembudidaya. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berbudidaya yang mengedepankan kelestarian lingkungan, agar produknya terjamin mutu dan keamanan pangannya serta keberlanjutannya. Penguatan nilai jual produk dengan menjaga kualitas dan kuantitas jaminan mutu dan keamanan pangan; Perbaikan lingkungan kolam dan tambak dengan dilakukannya rehabilitas lahan mangrove dan saluran tambak; Diperlukan punishment bagi pemilik sertifikasi CBIB dan IndoGAP tapi melakukan pelanggaran, melalui koordinasi dengan dinas terkait. Punishment dapat berupa membekukan sementara izin usaha dari unit yang bersangkutan sampai dilakukannya tindakan perbaikan.

Perjalanan mewujudkan program sertifikasi CBIB dan IndoGAP yang berkualitas dengan mengacu pada standar sertifikasi GlobalGAP dan Best Aquaculture Practises apabila dapat dilakukan secepatnya, akan menjadi semangat baru bagi pelaku perikanan budidaya di Indonesia dan menciptakan peluang dalam meningkatkan daya saing dan menyaingi dunia perikanan budidaya seperti di negara lain, misalnya Thailand dan Vietnam. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF