BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai

Asumsi pertumbuhan ekonomi 5,3 persen untuk 2020 sangat sulit dicapai karena berdasarkan catatan yang ada selama semester I 2015-2019 ekonomi tumbuh tertinggi hanya 5,27 persen (yoy). apalagi saat kondisi ekonomi global yang semakin berat.

Kedua, sebagai negara berkembang, kita harus tumbuh tinggi agar tidak terjebak pada middle income trap. Jika tidak mampu, maka perbaikilah struktur pertumbuhan. Namun, kondisi itu cukup sulit, seiring dengan menurunnya peranan sektor-sektor padat karya, yakni pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan. Kita perlu sektor tradable karena berperan penting terhadap penyerapan tenaga kerja.

Dari sisi permintaan, ekonomi belum masuk ke aktivitas produktif, karena rendahnya pertumbuhan PMTDB. Bahkan pada triwulan I dan II 2019, pertumbuhannya di bawah pertumbuhan ekonomi. Hal ini sangat mengkhawatirkan.

Terkait dengan inflasi, memang sudah demikian kondisinya, saat ekonomi tumbuh terbatas, tentu inflasi juga rendah. Akan tetapi, inflasi bahan makanan masih membubung. Artinya, persoalan inflasi belum juga beres dan bisa bergejolak ke level 4,9 persen.

Inflasi bergejolak sangat rentan bagi rumah tangga miskin, karena lebih dari separuh pendapatan dialokasikan untuk bahan makanan. Meski saat ini pemerintah tetap memberikan bantuan, namun pola yang menggunakan nontunai, terkadang tidak tepat penggunaan. Misalnya, dananya lebih digunakan untuk beli kebutuhan nonpangan. Dari sudut pandang keuangan, inflasi tinggi = bunga tinggi = kredit stagnan = investasi rendah.

Pemerintah melihat ekonomi global sangat berat, terutama karena perang dagang yang belum berakhir. Dampaknya cukup terasa bagi Indonesia, terutama pada neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan.

Bergeraknya fokus pemerintah dari outward menjadi inward cukup mengkhawatirkan karena: (i) ekspor menjadi sumber utama penerimaan negara lewat ekspor komoditas (CPO dan batubara). Porsi keduanya rata-rata sekitar 25 persen dari nilai ekspor nonmigas, (ii) ekspor menjadi sumber utama devisa untuk pembiayaan transaksi luar negeri (pembayaran utang swasta, pemerintah dan impor) (iii) defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan akan terus membengkak, karena tidak ada terobosan menggenjot ekspor.

Outward ke inward menunjukkan ketidaksiapan pemerintah mengantisipasi gejolak global. Banyak PR yang tidak tuntas, seperti dominasi struktur ekspor komoditas, struktur pasar ekspor ke negara-negara tradisional. 

Sudah seharusnya investasi didorong ke industri-industri berorientasi ekspor, sehingga memiliki nilai tambah yang besar bagi ekonomi. Hal ini sangat sulit karena: (i) PMA cenderung bergerak ke sektor-sektor tersier sejalan dengan booming-nya investasi pada jasa, terutama berhubungan dengan teknologi dan keuangan, (ii) industri Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku, sehingga relatif lebih mahal dibandingkan barang yang sama di luar negeri. (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik