BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Petani dan Nelayan Kunci Terwujudnya Ketahanan Pangan

Dalam setiap rilis resmi maupun obrolan ringan masyarakat, Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam (SDA) melimpah. Bahkan lirik lagu Koes Plus memperlihatkan dengan jelas "Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga, Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman".

Akan tetapi seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, berkurangnya lahan produktif, perubahan iklim serta semakin kuatnya tekanan jejaring pasar global yang liberal membuat Indonesia mengalami gejolak di berbagai daerah.

Dimulai dari krisis cabe,  bawang merah, tempe hingga bahan pokok yang diimpor yakni gandum. Semuanya mendorong Indonesia mengeluarkan kebijakan impor. Indonesia pun kehilangan pamornya sebagai negara produsen bahan pokok. Lalu apa yang terlewat dan terlupakan?

Hal yang mendasar yang terlupakan dan terlewatkan adalah sistem distribusi yang dijalani oleh negara ini masih berakar pada industrialisasi era kolonial (zaman penjajahan). Ketiadaan terobosan dalam sistem tersebut selama ini mengakibatkan ketidakberdayaan aktor utama dari ketahanan pangan di Indonesia, yakni petani dan nelayan.  

Soekarno dan Hatta telah merumuskan melalui pemikiran mereka. Dalam Marhaenisme (Soekarno) dan Sosial Demokrasi (Sos-Dem) merumuskan dan menerapkan sistem Koperasi (Hatta). Bahwa untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat dalam pangan, maka perlu melindungi dan memberdayakan petani dan nelayan. Dalam konteks saat ini, negara mampu untuk melakukan kebijakan-kebijakan yang mengintervesi langsung ke petani dan nelayan.

Selain itu negara sangat diperlukan kehadirannya dalam reformasi sistem distribusi nasional.  Negara perlu menertibkan aktor-aktor yang membuat jalur distribusi lebih panjang.  Negara juga perlu membuat sistem yang baru, yang lebih berkeadilan dan memberdayakan kaum petani dan nelayan.

Karena di tangan merekalah (petani dan nelayan) ketahanan pangan Indonesia bisa terwujud. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020