BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen STAIN Bengkalis
Politik Figur

Persaingan merebut simpati masyarakat pemilih merupakan suatu keharusan. Apalagi partai politik sebagai pendatang baru. Ibarat sedang berjualan brand dengan segala cara menjadi konsekuensi logis dan harus dilakukannya.

Tentu persoalannya adalah apakah barang ditawarkan suatu yang menggigit, sehingga masyarakat harus antri menjadi bagian dari penggemar brand tersebut?

Partai berkarya mencoba menawarkan menu lama dengan kemasan yang masih klasik. Kalimat: "enak jaman ku toh",merepresentasikan sebagai penyambung lidah Soeharto. Alasannya tentu mengacu pada keberhasilan Soeharto dalam berbagai bidang. Target politiknya tentu pada masyarakat yang mengakui keberhasilan Orde Baru. Tapi sayangnya, misi partai ini sudah tertutup oleh saudara tuanya, Partai Gerindra.

Artinya partai besutan Prabowo ini sudah memposisikan diri sebagai pewaris ideologi Soeharto yang sah, dan sudah cukup mengakar di tengah masyarakat. Maka berbicara Soeharto saat ini sedang berbicara Prabowo dalam politik kekinian. Jadi kemasan politik Prabowo telah menutup pecahan partai Orde Baru yang mengklaim sebagai keluaga mahkota Soeharto. Dan figur Prabowo telah memperkuat opini publik sebagai pejuang Orde Baru.

PSI pun demikian. Partai yang diisi anak-anak muda ini ingin tampil progresif dan memberi jawaban yang solutif. Sayangnya, para petinggi partai tidak mengemas program yang lebih menggigit di masyarakat. Idealisme yang dibangun justru dihancurkan oleh mereka dengan cepat mendukung program pemerintah.

Di sini ada kehilangan figur, lalu mendekati Jokowi dengan harapan menghasilkan efek positif bagi partai tersebut. Tentu misi PSI sebagai pembela Soekarno tertutup oleh kepentingan Partai PDIP yang sejak dulu sebagai tameng Jokowi.

Paparan di atas merupakan berita yang kurang menyenangkan bagi partai pendatang baru. Efek dengan jualan isu tidak efektif mengangkat rating partai tersebut menjadi lebih baik. Apalagi ditambah dua parpol tadi tidak ada tokoh sentral yang menjadi figur kebanggaan mereka. Sehingga sangat sulit untuk jualan isu klasik sebagai parpol yang bersih, rapi dan peduli terhadap rakyat. (cmk)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri