BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
RI Siap Ikut Transformasi Produktivitas Global

Pertama kita harus berhenti dan keluar dari jebakan dikotomi “Perang Dingin” tentang ideologi kiri berdasar Marxisme, kolektivisme, diktatur proletariat dan sosialisme sebagai pahlawan proletar sejati. Sedang ideologi kanan dicap kapitalisme liberalisme, exploitation de l’homme par l’homme. Itu sudah kuno ketinggalan zaman dan dikubur di Tembok Berlin serta dilindas oleh barisan tank di Tiananmen 1989.

Deng Xiao Ping dengan tepat menyatakan bahwa RRT telah 30 tahun mencoba Marxisme (sejak 1 Oktober 1949-1979), tapi nyatanya gagal mendeliver sembako di supermarket. Karena itu RRT kembali ke pasar, karena Market lebih tua dari Marxis. Sebaliknya kapitalisme liberal itu sudah mawas diri setelah menghadapi tantangan komunisme dan fasisme serta mengalami kegagalan pasar berupa krisis depresi saham saat bursa Wall Street anjlok di tahun 1929.

Anatole Kaletsky dengan cerdas mengulas dalam buku Capitalism 4.0 bahwa ideologi kapitalisme itu mengalami 4 metamorfose. Pertama, sejak revolusi industri 1.0, mesin uap zaman James Watt, memang seolah ekonomi diserahkan kepada “the invicible hands’ liberalisme pasar bebas, laizzes faire laissez passe.

Capitalisme 1.0 ini berlangsung sampai kegagalan bursa 1929 serta lahirnya negara komunis pertama Uni Soviet di tahun 1917. Tapi Barat AS dan Eropa (Inggris) tidak ikut arus jadi komunis, melainkan mengambil jalan tengah Sosial Demokrat. Hak buruh dijamin dan sistem jaminan sosial serta intervensi negara dan pemerintah dalam ekonomi masuk mengatasi kegagalan bursan Wall Street. Inilah “Keynesian economics” di Inggris warisan John M Keynes dan New Deal FDR di AS.

Sampai Perang Dunia II, ketika Barat dan Uni Soviet bersekutu untuk menghentikan fasisme poros Roma-Berlin-Tokyo, ekonomi politik berjalan paralel. Kekuatan ekonomi menjadi landasan kekuatan militer dan politik. Karena itu ada semboyan pilihan: bread and buttter or bullet. Kalau anda punya duit lebih, anda buat beli senjata atau buat makan minum, dan sandang pangan ekonomi.

Nah, selama 20 tahun sejak Perang Dunia II terjadi suatu anomali. Dimana negara kaya yang menang perang malah ‘membiayai’ bekas musuh yang jadi sekutu Jerman dan Jepang untuk membendung komunisme Soviet dan RRT. Dari zaman kuno sampai 1945, negara yang kalah perang selalu dihukum membayar rampasan perang untuk negara yang menang, sebagai hukuman atas perkara perang dan kekalahan yang dideritanya. Tapi karena anomali, AS justru membiayai Jerman dan Jepang, dan menjadikan mereka sekutu membendung komunisme Soviet dan RRT.

Karena itu ekonomi AS melemah: terlalu besar pasak dari pada tiang. AS telah menjadi polisi dunia, serta membiayai ekonomi dunia. Maka, Nixon menghentikan pertukaran dolar AS dengan emas pada 1971 dan mulai diplomasi segi tiga antara AS-Soviet-Tiongkok, yang kemudian dikenal dengan sebutan “keseimbangan Sam Kok”. Reagan melanjutkan dengan liberalisme sektor perbankan yang dikerangkeng sejak krisis 1930an. Inilah capitalisme 3.0 yang akan bermuara pada krisis moneter yang terjadi di AS pada tahun 2008, satu dasawarsa setelah krismon Asia Timur 1998.

Maka, kapitalisme juga mawas diri, dan bertransformasi lagi menjadi capitalisme 4.0. Dalam konteks rivalitas Barat-Timur yang sekarang menjadi AS-Tiongkok, terjadi ironis dan anomali dimana Trump malah cenderung "nasionalistik proteksionis". Sedang Xi jinping justru menjadi kampiun liberalisme dengan perdagangan bebas global anti proteksionis.

Jadi kita harus cerdas, cermat dan canggih. Upaya persekutuan 11 negara ex TPP di Tokyo setelah Trump meninggalkan TPP harus ditindak-lanjuti dan kita sendiri harus berhenti berbicara tentang slogan yang menyederhanakan seperti neolib, dan sebagainya. Sebab, sekarang ini doktrin dan dogma zaman perang dingin sulit diberlakukan secara konyol dan membabi buta. Karena itu kita kembali ke kata kunci: produktivitas. Itulah yang dikejar Presiden Jokowi, dengan menurunkan angka ICOR dari 6,4 supaya ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat dari 5 persen menjadi 7 persen.

Ini adalah era balapan efisiensi, produktivitas, kreativitas bukan slogan kosong dogma retorika yang tidak jelas ujung pangkalnya dan ketinggalan zaman. Siapa lebih produktif dia yang akan menang pertarungan lomba efisiensi global. (afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF