BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Reformasi Vs Kabilisme

Teror berawal dari revolusi Prancis dengan korban juga tokohnya sendiri, Maximilien de Robespierre. Sekarang saja tidak jelas tujuan teror atas nama jihad yang makin ekstrem radikal. Ideologi Kalifah yang diusung jadi fanatisme terhadap target sipil non kombatan, dan semakin meruntuhkan citra religi yang bersangkutan.

Dalam konteks reformasi Mohammed bin Salman (MBS) yang sedang terjadi transformasi luar biasa di Arab Saudi dan setara dengan Martin Luther 500 tahun lalu. Jika yang terjadi di Eropa 1517 terulang di Arab Saudi 2017, maka Arab Saudi akan jadi reformis seperti Calvinis terhadap Katolik.

Dampak reformasi Arab Saudi dari Mohamedanism ke McKinseyism pasti luar biasa bagi dunia. Bila wahabi salafi bertobat dari ekstremisme radikal jihadis menjadi sekuler modern-moderat, toleran-pluralis, maka meritokrasi akan jadi mutual ideologi yang menghapus dikotomi kalifah kafir-ah.

Jika Kabilisme dikubur maka manusia bisa menjadi berkah  dan mencapai harkat immortalitas yang dimampukan secara rasional teknologik, tapi dihadang oleh nafsu kebencian Kabil. Maka teror pasca WTC 911 Taliban hanya akan punah jika sumber Taliban Wahabi Salafi ditaklukkan justru oleh spirit reformasi endogen internal Arabi Wahabi Salafi, dari konservatisme jahiliyah menjadi rahmatan lil alamin sejati.

Jika manusia mengatasi dosa kemunafikan maka pasti berkat meritokrasi akan dilimpahkan. Selain itu patut  disyukuri kiat perdamaian seperti prakarsa tripartit kita untuk mendamaikan Afghanistan. Untuk itu kita doakan dan syukuri bahwa Indonesia layak dapat Nobel perdamaian. Biarlah kita juga akan berdamai sesama kita ditengah ancaman keterbelahan bangsa akibat  Kabilisme. Musuh bersama kita adalah kabilisme dan kemunafikan. Semoga kita lolos lulus dari bajakan Kabilisme. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF