BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia
Rekonsiliasi Sulit Terjadi Sebelum 22 Mei

Jika aksi massa yang dilakukan oposisi sekadar untuk memprotes ketidakadilan dan tuduhan kecurangan, maka demonstrasi besar-besaran sah-sah saja dilakukan. Kerena ini negara demokrasi. Di mana setiap individu dan kelompok dijamin oleh konstitusi dalam menyuarakan aspirasi dan pendapatnya. Namun memang, aksi massa nanti harus berjalan dengan damai, tertib, dan tidak anarkis.

Pihak oposisi tak mungkin ingin membuat kekacauan. Karena risikonya terlalu besar. Oposisi juga harus menjaga dan merawat Indonesia. Jadi membuat kekacauan adalah perbuatan biadab dan harus dihindari. Silahkan berdemonstrasi. Asalkan tidak membuat kekacauan dan keributan. Mari kita jaga dan rawat Indonesia. Jangan kotori Indonesia, dengan tindakan-tindakan yang bisa memecah belah bangsa. Indonesia untuk dijaga. Bukan untuk dirusak.

Sedia payung sebelum hujan. Langlah antisipasi adalah langkah yang terbaik. Jangan sampai kecolongan. Dan langkah pengerahan aparat secara besar-besaran merupakan salah satu cara efektif untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Karena massa yang besar harus dihadapi juga dengan jumlah aparat yang banyak.

Aparat keamanan sifatnya passif. Jangan represif. Sifatnya menjaga dan mengamankan. Bukan untuk berhadap-hadapan dengan demonstran.

Agar Jokowi dan Prabowo mau melakukan kesepakatan politik demi menjaga keutuhan NKRI, caranya mereka berdua harus berjiwa besar. Yang menang jangan jumawa. Dan yang kalah harus legowo. Juga harus memiliki sikap sebagai negarawan.

Syaratnya yang menang harus merangkul yang kalah. Dan yang menang bisa saja melakukan loby untuk mengganti biaya kampanye pada yang kalah.

Rekonsiliasi sulit terjadi sebelum 22 Mei. Namun bisa saja, rekonsiliasi terjadi setelah 22 Mei. Semua kemungkinan masih bisa terjadi. Yang penting bagi kita semua adalah mari kita jaga Indonesia. Mari kita jaga persaudaraan, persatuan, dan kesatuan. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020