BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Manager, Climate Reality Indonesia
Riwayat Domestikasi Air

Para tokoh sosiologi menjelaskan perkembangan masyarakat, yang diawali dari kelompok pemburu dan peramu, menjadi petani dan peternak secara sederhana. Selanjutnya ada sekelompok manusia sebagai petani skala besar dengan peralatan modern, dan kelompok lainnya merupakan pelaku industri dengan pabrik dan mesin. Dengan perubahan skala aktivitas masyarakat ini, manusia semakin banyak membutuhkan air, karena kehidupannya bergerak mengikuti pesatnya pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi.

Air, menurut Profesor Steven Mithen, ahli prasejarah University of Reading di Inggris, merupakan elemen umum dalam kebangkitan dan kepunahan peradaban kuno. Sebagai ilustrasi adalah bangkitnya peradaban Sumeria di Mesopotamia Selatan pada milenium ke-4 dan ke-3 Sebelum Masehi. Bangsa Sumeria bergantung pada irigasi untuk menghasilkan gandum dan barley yang diperdagangkan. Ketika irigasi di Mesopotamia Selatan telah berjalan beberapa milennium, tanah di sana menjadi terkontaminasi berat dengan garam sehingga gagal panen terus berlanjut, mengakibatkan kepunahan peradaban Sumeria.

Domestikasi air,  atau manipulasi sifat alamiah air untuk memenuhi kebutuhan manusia, merupakan titik balik dalam budaya setiap wilayah di dunia. David Macauley dari Pennsylvania State University di Amerika Serikat mengkaji serangkaian domestikasi air dan menyimpulkan bahwa selama 3000 tahun,  himpunan sejarah dipenuhi dengan informasi seperti pembangunan parit, bendungan, jembatan, prediksi banjir, pembuatan sistem irigasi, serta pembuatan kapal untuk berlayar di badan air.

Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) oleh Macauley juga diidentifikasi sebagai bentuk domestikasi air. Pada proses ini, aliran air ditangkap dari siklus hidrologi dan meteorologi, dimurnikan, dikemas dan kemudian dikonsumsi oleh rumah tangga.

Pada artikel Zach Johnston berjudul The History of Bottled Water, tercantum bahwa produksi AMDK secara besar-besaran dan untuk ekspor telah dimulai pada tahun 1621 di Holy Well, Inggris.  Kini, nilai pasar AMDK secara global pada tahun 2020 diperkirakan mencapai USD 280 miliar. Angka ini melebihi nilai industri komoditas kopi global yang berjumlah USD 200 miliar. 

Berdasarkan informasi Market Research, hampir setengah konsumsi global AMDK terjadi di region Asia Pasifik. Ini karena meningkatnya populasi pekerja usia muda, meningginya jumlah penyakit yang ditularkan melalui media air, memuncaknya kekhawatiran atas keamanan dan kemurnian air keran, dan melonjaknya unit manufaktur di wilayah tersebut.

Jika ditilik, penggunaan air secara global yang terbesar adalah di sektor pertanian yaitu 69 persen, diikuti dengan industri 19 persen dan keperluan domestik, juga 19 persen.

Badan-badan PBB memproyeksikan bahwa pada tahun 2025, penggunaan air di negara berkembang akan meningkat 50 persen, sedangkan di negara maju sebesar 18 persen. Selain itu, 1,8 miliar orang kemungkinan tinggal di daerah dengan kelangkaan air.  Indonesia termasuk 10 negara kaya air, namun hanya 17,69 persen yang dapat dimanfaatkan dengan 25,3 persen diantaranya untuk kebutuhan irigasi, domestik, perkotaan, dan industri.

Krisis air umumnya terjadi karena pertambahan penduduk, mega-urbanisasi, dan perubahan iklim. Tuntutan yang terus meningkat terhadap sumber daya air dunia untuk memenuhi kebutuhan manusia, komersial, dan pertanian menciptakan krisis lokal dan regional serta memicu kepedulian global.

Air, diakui PBB sebagai masalah hak. Ketika populasi global bertambah, ada sebuah kebutuhan yang meningkat untuk menyeimbangkan semua tuntutan komersial yang bersaing untuk sumber daya air, seperti AMDK sebagai bentuk domestikasi air, sehingga masyarakatlah yang seharusnya diutamakan agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi.(ysf)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF