BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Komunitas Perokok Bijak Nusantara 
Rokok Kini Penyelamat Kesehatan

Dari 2011 saya sudah menyampaikan, untuk menanggung biaya kesehatan masyarakat kalau diambil dari cukai rokok, sebenarnya cukup untuk seluruh masyarakat Indonesia. Jadi mereka nggak perlu lagi bayar biaya kesehatan. Kami bikin simulasi, dengan pelayanan BPJS Kesehatan kelas III dibayar dari cukai rokok sudah selesai persoalannya. Bahkan (masih) sisa (uangnya).  

Bicara sin tax atau pajak dosa, prinsipnya itu kan karena melakukan kesalahan maka harus bayar. Jadi, karena mengonsumsi produk yang berisiko merusak kesehatan atau merusak alam, maka yang mengkonsumsi harus membayar cukainya. Cukai telah ada sejak zoman kolonial Belanda. Yang dicukai pertama kali adalah minyak tanah. Bicara minyak tanah berarti SDA yang tak dapat diperbarui, makanya cukainya harus dibayar. Menyangkut cukai rokok atau alkohol, cukainya digunakan untuk penanggulangan (penyakit) akibat konsumsi itu. 

UU Kesehatan kan mengamanatkan 5 persen APBN dialokasikan untuk kesehatan. Sementara itu, cukai rokok memberi kontribusi sampai 9 persen pada APBN. Artinya apa? Untuk kesehatan masyarakat yang katanya 5 persen, masih ada sisa 4 persen dari cukai rokok. Maka, mestinya tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menanggung biaya kesehatan mereka. 

Masalahnya, ketika masuk sebagai penerimaan negara cukai ini bercampur dengan penerimaan yang lain. Yang kemudian pendistribusiannya kemana-mana untuk banyak kepentingan, termasuk bayar gaji pegawai. Cukai rokok jadi salah satu andalan penerimaan negara dan karena itu ada wacana menaikkan cukai. 

Dalam satu bungkus rokok ada cukai yang harus dibayar plus pajak daerah sebesar 10 persen dari cukai. Dari pajak daerah ini dimanfaat kan untuk kampanye anti rokok sampai mobil dinas. Pemahaman saya, uang dari pajak daerah ini yang dimanfaatkan untuk bayar iuaran BPJS Kesehatan di daerah yang bersangkutan dalam program PBI (penerima bantuan iuran). Bila begitu adanya, malah belum pakai uang sin tax dari cukai rokok. Tapi tambahan beban (pajak) pada rokok untuk daerah.  

Secara ekstrim bisa saya sampaikan, untuk teman-teman yang kemarin mengatakan rokok menggangu kesehatan, rokok membunuh dan seterusnya, maka sebenarnya hari ini, perokok menyelamatkan kesehatan masyarakat miskin. Jika Pemda tidak mampu membayar kewajiban iuran BPJS Kesehatan, otomatis masyarakat miskin tak bisa dilayani, atau rumah sakitnya tutup karena tak mampu menutup biaya operasional. Ketika kami (perokok) tidak keberatan atas pemanfaatan uang cukai dan pajak daerah dari rokok, dan kami juga tak ada hak untuk menyampaikan keberatan, alur pikirnya jadi terbalik sekarang: Anda tak bisa lagi ngomong (rokok) menggangu kesehatan. Kini rokok menyelamatkan kesehatan. (ade) 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF