BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)
SBI Sedot Likuditas Kurangi Fluktuasi Rupiah

Peminat SBI lebih banyak bank yang akan membeli sertifikat tersebut melalui lelang. Instrument ini jika dihidupkan lagi cukup efektif, tapi kalau arahnya karena pelemahan rupiah masalahnya tidak hanya pada suku bunga.

Banyak faktor yang menyebabkan rupiah melemah. Pemerintah menganggap karena faktor global, padahal banyak faktor di dalam negeri yang  juga berpengaruh dan sumber utamanya pada defisit transaksi berjalan.

Instrumen moneter dengan menaikkan suku bunga tidak efektif menahan pelemahan rupiah. Cadangan devisa juga sudah banyak terkuras untuk operasi pasar dan memiliki level confident yang tidak boleh dilewati, karena kalau sudah di bawah 100 miliar dolar AS maka akan timbul banyak isu terkait jumlah cadangan devisa tersebut, sehingga BI akan sangat menjadi posisi saat ini sebesar 119 miliar dolar AS.

Supaya cadangan devisa tidak tergerus lebih dalam BI menggunakan instrumen lain salah satunya SBI. Jika SBI 9 bulan dan 12 bulan dihidupkan kembali maka terbuka peluang menyerap likuiditas.Tujuannya, dengan terserapnya likuiditas maka diharapkan fluktuasi rupiah tidak terlalu liar, karena uangnya sudah ditaruh di BI. Walaupun ke publik BI mengatakan reaktivasi SBI sebagai tambahan instrumen supaya pasar keuangan menarik.

SBI ini seperti obat. Kalau diminum pasti ada efek sampingnya dan yang paling kelihatan dampaknya adalah sektor riil. SBI ini men-challenge uang yang ada di bank untuk masuk ke BI secara langsung. Berbeda dengan penaikan suku bunga acuan yang memiliki time lag dan hanya berupa acuan bagi bank dalam penetapan suku bunga.

Suku bunga SBI akan ditetapkan semenarik mungkin. BI akan mempertimbang suku bunga instrumen lain sebagai acuan dalam menetapkan suku bunga SBI dan pada level yang ada peminatnya sehingga lelang akan berjalan efektif. Jika tidak ada peminat maka ada dua risiko yakni tidak berhasil menyerap likuiditas dan pertaruhan reputasi otoritas moneter yang mengeluarkan kebijakan tersebut.

Berapa tingkat suku bunga SBI tergantung kepada dinamika pasar, terutama pasar yang setara dengan  SBI 9 bulan dan 12 bulan  yakni surat utang negara atau surat berharga negara (SUN/SBN).  Pada akhirnya ada pilihan investasi apakah akan membeli SBN atau SBI.

Dalam sejarahnya SBI cukup efektif untuk bisa menyerap likuiditas. Kalau tidak ada penyerapan terhadap likuiditas bank yang berlebih, dana tersebut bisa dimainkan di pasar uang dengan jual beli valas yang membuat fluktuasi rupiah semakin tinggi. Dengan mendapatkan keuntungan dari SBI maka pelaku pasar akan mengurangi jual beli valas sehingga situasinya menjadi lebih tenang.

Namun BI tidak mungkin terus menerus menyerap likuiditas melalui SBI sehingga harus memperhatikan timing. Di sisi lain ada pilihan investasi SBN sehingga antara BI dan pemerintah harus melakukan koordinasi waktu pelaksanaan lelang, kapan harus mengeluarkan SBN dan kapan mengeluarkan SBI. Suku bunga kedua instrumen ini tidak akan jauh berbeda. Kalau salah satu kalah menarik maka akan tidak laku. (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol             Dehumanisasi di Hari Kemanusiaan Internasional terhadap Masyarakat Papua