BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM
Saatnya Memulai Strategi sebagai Indonesia Incorporated

Permasalahan perdagangan dunia hanya berputar pada isu-isu klasik seperti proteksi ekonomi dalam negeri dari serbuan produk impor dan di lain pihak pembukaan pasar ekspor yang berujung pada besaran tarif untuk produk impor ataupun hambatan non tarif.

Komoditi minyak sawit Indonesia beserta produk turunannya juga mengalami nasib serupa dalam perdagangan dunia. Uni Eropa berusaha membendung masuknya minyak sawit dan produk turunannya dari Indonesia dengan pengenaan tarif tinggi dan hambatan non tarif lainnya. Indonesia masih bernafas lega saat WTO memenangkan gugatan Indonesia kepada Uni Eropa terkait hal tersebut. Sekarang, Amerika Serikat meniru Uni Eropa terhadap produk biodiesel dari Indonesia.

Seharusnya pemerintah Indonesia sadar bahwa sudah saatnya penanganan perdagangan minyak sawit dan produk turunannya perlu unit khusus yang melibatkan jajaran pemerintah antara lain Ditjen Perdagangan Luar Negeri - Kemendag, Ditjen Perkebunan - Kementan, Ditjen Industri Agro - Kemenperin, Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan - Kemen LHK, serta Ditjen Hukum dan Perjanjian Internasional - Kemenlu, kemudian jajaran swasta meliputi industri kebun sawit dan industri minyak sawit dan produk turunannya, serta lembaga terkait seperti GAPKI, PPKS, dan BPDP Kelapa Sawit.

Para pemangku kepentingan sawit tersebut dapat memulai komunikasi dan koordinasi untuk menyamakan persepsi serta strategi menghadapi tantangan perdagangan dunia sebagai Indonesia Incorporated, suatu gagasan yang sudah lama digaungkan beberapa pihak pada waktu lalu, salah satunya Arifin Siregar-mantan Gubernur BI, saat bangsa ini diperhadapkan dengan persaingan antar bangsa dunia. Pertemuan reguler kelapa sawit yang diselenggarakan GAPKI dapat menjadi pintu masuk 'rembug nasional sawit Indonesia'. Setiap komponen bangsa seperti tersebut di atas harus ambil peran secara jelas dan terukur dalam perdagangan dunia minyak sawit ini.

Minyak sawit--entah sudah disadari atau belum oleh segenap pihak di Indonesia, merupakan salah satu dari sedikit produk strategis bangsa ini. Kelapa sawit hanya dapat tumbuh subur di lingkar khatulistiwa sehingga hanya Indonesia dan Malaysia menjadi produsen utama minyak sawit. Jika Jepang dan Korea sangat dikenal dengan produk elektronikanya yang menguasai dunia, kemudian China yang menyerbu dunia dengan berbagai produk murahnya, maka Indonesia memiliki potensi dan kesempatan menguasai dunia melalui minyak sawit dan produk turunannya. Hal ini tentunya membuat gusar beberapa negara mapan di dunia seperti Amerika Serikat yang menjadi produsen minyak kedelai terbesar dunia, kemudian negara-negara Eropa yang menjadi produsen utama minyak nabati seperti rapeseed oil dan sunflower oil.

Hal ini semakin nyata bila menengok data konsumsi minyak nabati dunia yang pada 2016/2017, menurut lembaga Statistika, mencapai 182,3 juta metrik ton dengan besaran konsumsi minyak sawit (32,9 persen), minyak kedelai (29,41 persen), minyak rapeseed (16,03 persen), minyak sunflower (9,06 persen) serta minyak lain-lain (12,6 persen). Menjadi maklum jika Amerika Serikat berusaha segenap tenaga agar minyak kedelai tidak bergusur oleh minyak sawit. Demikian juga Eropa yang mati-matian membendung minyak sawit agar tidak menggerus rapeseed oil dan sunflower oil.

Persaingan antar bangsa di perdagangan dunia komoditas minyak sawit akan berlangsung dalam waktu panjang. Oleh karena itu segenap pemangku kepentingan minyak sawit di Indonesia harus fokus dan sistematis merumuskan berbagai strategi yang menguatkan minyak sawit dan produk turunannya sebagai komoditi andalan Indonesia, termasuk membuka pasar baru di India dan China. Semoga kelapa sawit sebagai karunia Tuhan dapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF