BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta
Saving Investment Gap Masih Relatif Tinggi

Kontribusi sektor konsumsi rumah tangga di hampir sebagian besar negara di dunia, memang paling tinggi terhadap GDP.

PMDN, di tengah situasi ketidakpastian global seperti saat ini memang “wait and see”. Sehingga mau tidak mau harus mengandalkan PMDN. Hanya masalahnya,  kontribusi PMDN pasti tidak akan besar dan dananya juga terbatas.

Persoalan lainnya di Indonesia adalah saving investment gap nya relatif tinggi. Padahal jika saving investment gap tidak begitu tinggi, maka sebenarnya kontribusi PMDN bisa relatif lebih besar.

Jadi dalam jangka menengah panjang memang harus mengupayakan saving investment gap semakin kecil. selisih antara investasi dengan saving harus diupayakan tidak terlalu besar. Tabungan adalah penawaran dana, sedang investasi merupakan permintaan dana. Sekarang karena saving nya rendah maka mau tidak mau harus mengandalkan dana dari luar negeri. Baik investasi FDI ataupun investasi portofolio.

Oleh karenanya jika kita mengandalkan PMDN, dalam jangka pendek ini sepertinya agak susah.

Untuk membenahi sektor manufaktur, sebenarnya kita sudah terlalu lama membiarkan industri manufaktur tidak tumbuh. Ditinjau dari teori ekonomi struktural, gejala di Indonesia terbilang aneh.

Seharusnya, ketika pada tahap awal dimana pendapatan per kapita masih rendah, sumbangan sektor primer atau pertanian biasanya paling tinggi. Kontribusi kedua adalah sektor manufaktur, dan ketiga sektor jasa.

Ketika kemudian pendapatan menjadi menjadi naik, maka manufaktur berubah ke posisi paling tinggi, ke dua, sektor pertanian dan yang ketiga sektor jasa.

Jika kemudian pertumbuhan terus meninggi maka urutannya manufaktur, jasa lalu pertanian. Pada posisi dimana pertumbuhan menjadi paling tinggi maka urutan kontribusi adalah sektor jasa, manufaktur, dan sektor pertanian.

Persoalannya data kontribusi di Indonesia menunjukkan bahwa sektor jasa terlalu cepat melampaui sektor manufaktur, padahal posisi Indonesia adalah negara dengan pendapatan middle low. Anehnya, kontribusi sektor jasa sudah cukup besar. Sedangkan sektor manufaktur mengalami declining terlalu cepat.

Maka pekerjaan rumah yang paling utama adalah membangun kembali sektor manufaktur, minimal mengandalkan sumber daya alam atau primer yang mempunyai keunggulan komparatif. Artinya kita harus memanfaatkan potensi sumber daya alam maupun skill khusus yang dimiliki.

Contoh kecil dari industri rumahan bulu mata di Purbalingga Jawa Tengah, butuh skill khusus seperti ketalatenan dan sebagainya yang menjadi keunggulan komparatif.

Produk bulu mata Purbalingga itu secara kualitas tidak bisa dikalahkan oleh China, Korea Selatan atau lainnya. Hal itu disebabkan tipikal pekerja perempuan di Purbalingga memang telaten. Oleh karena itu selain keunggulan sumber daya alam, kita juga mempunyai skill sumber daya manusia yang punya keunggulan komparatif.

Manufaktur yang  harus kita kembangkan mungkin bukan manufaktur yang sangat besar tetapi karena selama ini kita sangat tergantung pada ekspor komoditas, maka jika kita hendak melakukan lompatan ke manufaktur yang sifatnya high-tech, sepertinya butuh investasi yang besar.

Maka, kita manfaatkan dengan membuat komoditi yang lebih bernilai tambah. Hal itu Harus dilakukan dengan tahapan-tahapan perkembangan manufaktur (stepping), agar waktunya juga tidak terlalu panjang.

Dalam tahun ini mengubah sektor manufaktur menjadi sektor unggulan agaknya masih berat.

Rekomendasi untuk jangka pendek adalah, dari ketergantungan kita yang cukup besar terhadap faktor eksternal--dimana terjadi perlambatan ekonomi global berikut adanya ketidakpastian, maka sebaiknya jangan menambah faktor internal yang dapat memperburuk kinerja ekonomi.

Salah satu contohnya adalah, pengelolaan APBN harus benar sehingga defisit dapat ditekan, dan mengelola neraca transaksi berjalan sehingga defisit yang terjadi tidak semakin membengkak. (pso)

 

 

 

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Akibat Jalan Non Tol Tak Dipelihara             Catatan YLKI untuk Mudik Lebaran 2019             Tipis Prabowo-Sandi Menang di MK             Putusan MK Tidak Mengakhiri Polemik Pilpres 2019             LGBTIQ Merupakan Pilihan dan Hak Asasi             Asumsi RAPBN 2020 Sulit Tercapai             Strategi Ekspansif Tak Tampak di RAPBN 2020             Transisi Darurat (Demisioner) Permanen????             Membangun Sambil Menindas             Mitigasi Pengaruh Kejadian Politik terhadap Kegiatan Ekonomi