BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)
Segera Rumuskan Ide-Ide Cerdas

Bagaimanapun IMF tidak bisa dipisahkan dengan Amerika Serikat (AS), karena AS salah satu pemegang saham terbesar. Sayangnya, di dalam keputusan-keputusan lembaga internasional biasanya ditentukan oleh pemegang saham terbesar. Jadi, korporasi di atas kewenangan yang melampaui kewenangan negara. Artinya ketika ‘fatwa’ lembaga ini ditentukan oleh kekuatan pemegang saham di antara negara-negara besar, maka suara itulah yang bisa mengatur negara-negara lain di dunia ini. Itulah yang kita kenal sebagai IMF dan World Bank system.

Tentu di dalam sebuah organisasi internasional penyelenggaraan event yang berskala internasional bagaimanapun ada manfaatnya, minimal ketika banyak nya peserta yang menghadiri IMF/WB annual meeting forum—ada 189 negara yang akan hadir—artinya itu berpotensi menimbulkan aktivitas ekonomi dari belasan ribu peserta. Tetapi masalahnya adalah, kita harus menghitung benefit dari diadakannya event tersebut, berapa yang dikeluarkan dan berapa yang akan di dapat. Sehingga itu yang selalu menjadi pertanyaan publik. Ketika kita sudah bisa menarik kedatangan peserta internasional dan juga perspektif orang tentang Indonesia, yang kita harapkan sebetulnya bukan hanya spendingnya waktu pertemuan 3-4 hari itu. Tapi setelah event itu negara yang hadir mau invest di Indonesia atau tidak?

Nah, kalau hanya sekadar promosi dan menjajakan potensi Indonesia, itu tidak perlu IMF/WB meeting. Karena selama ini toh Indonesia sudah masuk radar investor dunia, bahkan Indonesia pernah berada di urutan ke tiga untuk negara tujuan investasi. Tapi yang gagal kita lakukan adalah bagaimana mereka yang sudah berminat investasi kemudian merealisasikan invetasinya di Indonesia. Itu selalu gagal. Bahkan awal-awalnya pak Jokowi itu sudah promosi dimana-mana, orang datang berduyun-duyun ke Indonesia, bahkan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) sudah memberikan izin/permitt untuk investasi tapi realisasi investasi ternyata hanya seperempat nya saja.

Jadi itu yang harus dikaji ulang, tentang siapa sebenarnya yang harus memfollow up agar pertemuan itu mempunyai implikasi terhadap masuknya FDI ke Indonesia. Juga agar peserta yang hadir diberikan informasi tentang destinasi-destinasi pariwisata lainnya di seluruh Indonesia, jadi bukan hanya Bali saja.

Selain hal-hal di atas, harus dipertanyakan juga, apakah kita hanya menjadi ”EO” event IMF/WB Forum saja, karena yang menjadi persoalan dunia sebetulnya adalah keberadaan IMF dan World Bank bisa membawa missi kepentingan dunia, dan tidak hanya menjadi lembaga yang dikangkangi oleh kepentingan para pemegang saham terbesar tadi. Apakah Indonesia punya tawaran atau punya concept note bagaimana tatanan moneter dunia ke depan, misalnya.

Kita sendiri kalau melihat persiapan dan juga pokja-pokja yang ada kok agak pesimis Indonesia bisa secerdas itu untuk memanfaatkan momentum IMF/WB Forum. Karena mestinya sebagai tuan rumah kita pasti punya keistimewaan untuk pengaturan rundown acara atau mengatur agenda-agenda. Nah, kalau Indonesia bisa menyelipkan agenda-agenda itu maka Indonesia bisa dikenal sebagai negara yang punya pikiran-pikiran brilian, pasti orang akan lebih detail lagi melihat potensi-potensi Indonesia. (pso)

 

 

  

 

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF