BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?

Sepanjang Januari-September 2019 sudah tercatat defisit neraca dagang total sebesar 1,95 miliar dolar AS. Meski defisit, angka ini masih lebih rendah dari defisit tahun lalu di periode yang sama yaitu sebesar 3,8 miliar dolar AS. Yang menyebabkan rendah adalah rendahnya impor migas yang terjadi sepanjang Januari-September 2019. Tetapi kalau kita lihat dari neraca dagang non migas, justru mengalami penurunan surplus dari yang sebelumnya 5,6 miliar dolar AS menjadi 4,4 miliar dolar AS. Di non-migas, ekspor kita masih tertekan terutama di komoditas lemak dan minyak hewan/nabati yang persentase penurunannya dibandingkan periode yang sama (Januari-September) tahun lalu mencapai 18,7 persen. Sampai akhir tahun secara total neraca dagang kita akan tetap defisit meskipun tidak sebesar tahun lalu. 

Porsi terbesar untuk ekspor non migas berada pada ekspor komoditas perkebunan, sebut saja lemak dan minyak hewan/nabati. Indonesia memiliki keunggulan komparatif di sektor perkebunan dan pertambangan. Keunggulan komparatif ini hadir dari sumberdaya alam di Indonesia sangat mendukung dua sektor ini. Keuntungan memang akan menjadi kerugian ketika keunggulan komparatif ini dianggap sebagai keniscayaan. Padahal kita melihat negara-negara yang tidak memiliki keunggulan komparatif seperti yang dimiliki oleh Indonesia memilih untuk mencari cara agar produk yang diperdagangkan dari negaranya memiliki nilai tambah tinggi sehingga memiliki keunggulan kompetitif. 

Jika Pemerintah mau terus mengandalkan komoditas perkebunan dan pertambangan sebagai senjata ekspor nya, tentu yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar perjanjian perdagangan dapat menguntungkan Indonesia untuk komoditas ini sembari meningkatkan hilirisasi komoditas tersebut di dalam negeri. Diplomasi perdagangan perlu terus dilakukan melalui kerjasama bilateral yang saling menguntungkan. Hilirisasi dan proses penciptaan nilai tambah perlu dipercepat guna mengejar ketertinggalan. 

Namun jika kita tidak ingin ketergantungan terhadap komoditas tersebut, cara lain adalah melakukan diversifikasi komoditas yang diekspor ke luar. Apalagi jika mengandalkan dari produk-produk hasil manufaktur non-migas yang juga tidak sedikit. Memang cara ini akan memakan waktu dan perlu rela menelan pil pahit dalam bentuk penurunan ekspor non migas di jangka pendek. Namun jika serius, Indonesia bisa melepaskan ketergantungan dengan komoditas alam dari dua sektor tersebut. Semakin terdiversifikasi produk, semakin ringan beban risiko domestik maupun global yang turut dipikul. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!             Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian             Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong