BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Advokasi, Management dan Kebijakan Publik.
Shortfall Pajak, Hanya Downgrade Atau Malah Bikin Impeachment?

Ada pepatah terkenal dari Bung Karno “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Pepatah ini mungkin dipakai oleh pemerintah dalam hal Rencana Target Pencapaian Pajak yang tinggi sebesar Rp1.415,3 Trilyun di RAPBN 2018. Maka, berbagai cara di lakukan, termasuk yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) 36 Tahun 2017 tersebut.

Apakah hal ini akan berhasil? Faktanya program Tax Amnesty yang kemarin itu tidak maksimal sehingga sekarang melebar kemana-mana?

Tahun 2015, target penerimaan pajak Rp 1.294 triliun, dengan realisasi hanya sebesar Rp 1.060 triliun. Shortfallnya Rp234 triliun. Begitu juga di tahun 2016, di mana gencar-gencarnya Tax Amnesty pun tidak mampu menggenjot pajak secara maksimal dari target yang diharapkan. Realisasi pendapatan negara dari penerimaan pajak hanya Rp1.283,6, atau 83,4 persen dari target APBN-P 2016 yang sebesar Rp1.539,2 triliun.

Jika tahun 2017 terjadi lagi shortfall, maka hal ini bisa mengakibatkan: Pertama, Defisit  Anggaran pembelanjaan; kedua, Ketahanan Fiskal memburuk; ketiga, gairah pasar dalam perekonomian berkurang; dan keempat, Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam mengelola keuangan negara akan menurun (Down Grade).

Memang shortfall pajak bukan satu satunya penyebab defisit anggaran. Banyak faktor lain, diantaranya: Korupsi yang merajalela, Borosnya anggaran pembelanjaan negara, subsidi yang tidak tepat, besarnya hutang Negara, dan lain-lain.

UU Keuangan Negara no 17/2003 pada Pasal 12 ayat (3) disebutkan, bahwa defisit anggaran dimaksud dibatasi maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) serta Jumlah pinjaman dibatasi maksimal 60 persen dari PDB. namun ada batas 30 persen batas hutang psikologis dari Menkeu.

Jika menilik proyeksi yang dibuat pemerintah tahun ini, rasio utang mencapai 29,3 persen. Namun perlu di cermati secara matang, mengingat 2019 nanti, proyeksi rasio utang terhadap PDB bisa tembus ke angka 32 persen. Artinya, sudah di atas nilai psikologis dari Menkeu.

Jika angka angka tersebut melebihi dari apa yg di tentukan oleh UU Keuangan Negara no.17/2003 tersebut, maka bisa diartikan terjadi pelanggaran UU atau pelanggaran Hukum atas ketidak mampuan Pemerintah mengelola Keuangan Negara. Yang artinya, hal ini sudah bisa dijadikan dasar untuk mengimpeach Presiden. Ini inti nya.

Untuk mengatasi hal tersebut, skala Prioritas utama adalah mengejar para koruptor sampai ke akar akarnya untuk mengembalikan harta negara yang telah dirampok para koruptor ke kas Negara. Lebih tepat dibandingkan menggenjot pajak dengan mengeluarkan PP 36/2017 yang juga sulit untuk dicapai targetnya (by conditional).

Untuk itu, mungkin lebih perlu dikeluarkan aturan baru, yakni PP tentang Hukuman Mati bagi Koruptor di atas 5 M (akumulatif sistem). Jika PP tentang hukuman mati sudah ke luar dan telah berjalan efektif, maka baru bolehlah PP 36/2017 tentang Pajak tersebut dijalankan dengan sejumlah langkah revisi yang tepat. Maka dari itu, Negara harus mempunyai semboyan baru: “Gantunglah Para Koruptor maka bintang terang akan muncul“.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri