BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Ilmu komunikasi UMY dan Editor in Chief Jurnal Komunikator
Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo

Pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT menjadi perhatian masyarakat dalam minggu ini. Pertemuan dua tokoh besar bangsa ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat baik masyarakat “offline” ataupun masyarakat “online”. Perbincangan masyarakat tersebut bahkan melahirkan berbagai macam tafsir dan pemaknaan terhadap pertemuan dua tokoh tersebut. 

Tafsir terhadap pertemuan dua tokoh besar tersebut terlihat ramai dalam dunia maya. Memang masyarakat online paling banyak memberikan penafsiran terhadap pertemuan tersebut. Menafsirkan sesuatu tidak ada salahnya, namun harus dipahami setiap tafsir yang berkembang dari berbagai pihak dalam hal ini individu ataupun kelompok, pasti hal tersebut banyak dipengaruhi latar belakang pendidikan, afiliasi partai politik tertentu, sampai berasal dari daerah mana si penafsir tersebut berasal juga turut mempengaruhi hasil dari pemaknaan tersebut. 

Semiotika sebenarnya memberikan sedikit jalan tengah dari banyaknya tafsir “liar” di masyarakat saat ini, karena setiap hasil pemaknaan dari semiotika sebenarnya sudah melalui intertekstualitas, dalam bahasa sederhananya setiap pemaknaan dari sebuah tanda pasti selalu menghubungkan dengan teks yang lain. Artinya pemaknaan yang dihasilkan semiotika tidak tiba-tiba muncul tetapi sudah diperkuat data dan kajian-kajian akademis atau non akademis yang memperkuat pemaknaan tersebut. 

Oleh karena itu dalam hal ini saya mencoba sedikit bersemiotika dari pertemuan Prabowo dan Jokowi, melihat berbagai gambar yang beredar di berbagai media dari pertemuan tersebut saya mengambil dua tanda yang akan saya analisis yaitu Mass Rapit Transid (MRT) dan baju putih yang digunakan oleh kedua tokoh tersebut. 

Meminjam istilah salah satu tokoh semiotika Roland Barthes, bahwa ada makna denotasi dan konotasi yang bisa kita gali dari dua tanda tersebut. Secara denotatif kita bisa melihat bahwa MRT adalah sebuah kereta cepat dengan desain yang berbeda dengan kereta api pada umumnya pastinya terlihat lebih modern Sedangkan secara konotatif MRT adalah simbol kemajuan sebuah bangsa, moda transportasi modern dan salah satu solusi kemacetan yang ada di Jakarta (makna konotatif tersebut hasil dari penelusuran berbagai sumber). 
    
Jika kita lihat secara seksama sebenarnya banyak hal yang bisa kita maknai dari pertemuan tersebut salah satunya merujuk pada hasil analisis di atas maka bisa jadi pertemuan dua tokoh tersebut di MRT merupakan sinyal bahwa mereka berdua sama-sama menginginkan Indonesia menjadi negara maju dan segera lepas dari istilah negara “berkembang”. Karena mereka bertemu dalam sebuah simbol kemajuan sebuah bangsa dalam bidang transortasi. 

Kemudian baju putih yang mereka gunakan secara denotatif jelas terlihat bahwa Jokowi menggunakan lengan panjang sedangkan Prabowo menggunakan lengan pendek dengan kombinasi empat saku pakaian. Sedangkan secara konotatif baju putih bisa dimaknai adalah bentuk kesederhanaan, kebebasan, keterbukaan bahkan mampu mengurangi rasa nyeri  (makna konotatif tersebut hasil dari penelusuran berbagai sumber). 

Melihat dua tokoh tersebut bersama-sama menggunakan baju putih (terlepas hal tersebut disengaja atau tidak disengaja) menunjukkan bahwa kedua pemimpin tersebut sebenarnya mempunyai sifat yang sama dalam memimpin sebuah bangsa yaitu penuh kesederhanaan, dan kedua pemimpin tersebut sangat menyukai keterbukaan dalam berbagai bidang, serta yang terpentih makna baju putih menunjukkan bahwa tidak ada luka dan dendam lagi diantara kedua pemimpin tersebut. Artinya rasa sakit yang dirasakan selama Pemilihan Presiden akibat saling serang dan menghujat beberapa waktu yang lalu berangsur-angsur akan hilang. 

Jika kita tafsirkan secara keseluruhan maka pertemuan Jokowi dan Prabowo yang menggunakan baju putih dan dilakukan di MRT merupakan bentuk pesan kepada publik bahwa rekonsiliasi itu sudah terjadi dan mereka sama-sama berkomitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju yang pastinya akan mensejahterakan rakyatnya lewat berbagai fasilitas yang nantinya mampu menunjang produktivitas masyarakat Indonesia. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar