BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)
Skala Krisis Mendatang Lebih Besar dari 1998

Ancaman pelemahan ekonomi dunia, dimulai tanda-tandanya  dari ekonomi AS.  Untuk hal ini, perlu diperhatikan beberapa faktor.  Pertama, ekonomi mengalami ekspansi yang cukup panjang, bahkan terpanjang, yakni selama hampir 10 tahun (2009-2019).  Biasanya ekspansi berjalan selama 7-8 tahunan, sering disebut siklus bisnis.  Jadi besar kemungkinan ekspansi ini akan segera berakhir. 

Kedua, ada fenomena menarik yakni apa yang disebut inverted yield, yakni imbal hasil obligasi AS bertenor jangka pendek lebih tinggi dari imbal hasil obligasi jangka panjang. Hal ini terjadi karena orang melihat dalam jangka panjang, prospek ekonomi tidak begitu bagus, makanya obligasi jangka panjang lebih rendah.  Fenomena ini juga terjadi pada 2007, dan 3 bulan kemudian ekonomi AS memasuki masa resesi.

Kedua, fenomena tersebut ditambah dengan policy behaviour dari Trump yang sangat unpredictable sehingga menciptakan uncertainty, terutama kaitannya dengan perang dagang dengan China. Jadi, dua faktor penting dari ekonomi AS yang merupakan 24 persen  pangsa ekonomi dunia itu yang akan menimbulkan dampak terhadap ekonomi global.

Sudah barang tentu, ekonomi di berbagai negara seperti  China,EU, Japan, Korea juga akan memberikan dampak.  Ditambah lagi dengan faktor menurunnya volume perdagangan dunia, dan menurunnya harga komoditas akan besar dampaknya terhadap negara-negara yang export oriented economy termasuk Indonesia.

Bagaimana Indonesia?  Kita pernah mengalami krisis dalam skala besar (1998), atau yang lebih kecil (2008), atau berbagai shock (taper tantrum, 2013). Kecuali krisis 1998, Indonesia berhasil melalui krisis tersebut dengan baik.  Alasannya, kita belajar dari krisis tahun 1998, dan melakukan reformasi berbagai kebijakan fiskal dan moneter serta sektoral setelah itu, sehingga lebih resilien terhadap berbagai krisis atau shock yang terjadi.

Bagaimana kali ini? Jika krisis terjadi, maka skalanya akan lebih besar, sekali lagi jika berbagai negara tidak melakukan langkah-langkah antisipatif bahkan mengeluarkan kebijakan yang counter productive seperti currency war, kebijakan protektif, inward looking policy, dan lain-lain.

Respon Indonesia seharusnya sedia payung sebelum hujan, dimulai dari sekarang melakukan langkah-langkah konkrit yang antisipatif.  Berikut beberapa langkah yang perlu diambil;  Pertama, melakukan reformasi struktural secara lebih fundamental terutama terkait dengan aturan dan perizinan, seperti penurunan restriksi perdagangan pada tarif dan non tarif, perizinan FDI harus direlaksasi, peraturan pemerintah daerah yang memberatkan ekonomi juga harus dihilangkan.

Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur secara lebih terarah dan terencana sehingga membawa dampak ekonomi lebih signifikan. Ketiga, genjot ekspor habis-habisan dengan menghilangkan berbagai restriksi dan promosi besar-besaran dengan target market yang terukur.  (sar)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja