BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dermatologist, Kritikus film, kolektor film dan memorabilia, wartawan film dan kesehatan harian Waspada 
Superhero Lokal Saingi Hollywood, Jangan Berhenti Berharap

Tidak bisa dipungkiri, biarpun dari sebelumnya ada cross-overs di sebagian film, yang mempopulerkan term universe sinematik adalah Marvel dengan MCU-nya. Mengapa hanya Marvel yang benar-benar berhasil sementara selebihnya tidak, paling tidak sampai saat ini, adalah karena cara mereka membangun keseluruhan semestanya. 

Selagi yang lain mungkin berpikir pendek, Kevin Feige merancang MCU dengan kecermatan tinggi sejak awal -- tidak hanya lewat pemilihan sutradara dengan style masing-masing, cast dan yang terpenting, konsep lintas genre dari satu instalmen ke instalmen lainnya. Saya kira ini yang membuat penggabungannya lebih mudah menyatu saat karakter-karakter tadi saling dipertemukan, tidak seperti DCEU - misalnya, yang berdiri di atas pendekatan senada di instalmen-instalmen awalnya.

Kala tren itu dipindahkan ke sini, lewat Bumi Langit Cinematic Universe dan Jagat Satria Dewa (kebetulan saya juga duduk sebagai creative producer dalam produksinya), tentu yang diharapkan terutama adalah desain yang kuat dalam keseluruhan universe-nya, juga secara khas perlu ada signature jelas di kemasan jualan utamanya. Di saat kita punya harapan genre superhero Indonesia yang sudah berkali-kali gagal kini dapat bangkit kembali, kecermatan dalam membangun konsepnya adalah tantangan terbesar. 

Kita jelas tak bisa menghindari pembandingan oleh audiens terhadap blockbuster-blockbuster Hollywood, juga menyamai aspek teknis terutama CGI/VFX karena perbedaan standar bujet yang cukup jauh ataupun sarana lebih terbatas, tapi tentu bukan berarti kita tidak punya aspek-aspek lain untuk didorong lebih, misalnya unsur-unsur kedekatan kultur yang kita miliki, ataupun pendekatan aksi, drama atau komedi, misalnya. Jadi bukan aspek teknologi film superhero Hollywood, yang memang dalam skup internasional tetap paling maju, yang kita coba tandingi.

Namun tak ada juga yang sebenarnya  salah dengan keadaan ini, termasuk menyalahkan impor film Hollywood atau negara luar manapun, karena kita memang masih berhadapan dengan kurangnya layar dibanding banyaknya produksi lokal yang saling berebut tanggal rilis selain impor film luar, juga kurs mata uang yang membuat standar bujet produksi lokal ada dalam rentang sangat jauh, belum lagi kecenderungan penonton yang rata-rata hanya nonton di bioskop 3-4 dalam sebulan. 

Cara menyiasatinya dengan terus belajar dan mengamati film-film lokal yang bisa bersaing dengan blockbuster impor untuk menempati slot rata-rata itu, untuk bisa pelan-pelan membaca pergerakan dan perkembangan selera pasar. 

Terakhir, kalau ditanya akankah semesta superhero lokal yang dibuka dengan Gundala akhir bulan ini akan berhasil secara komersil dan kualitas, jawaban paling tepat saya rasa adalah kita mesti terus berharap, mencoba dan tidak menyerah demi dobrakan terhadap stagnansi genre film Indonesia yang sekarang makin membaik. Satu lagi, jangan pernah lupa dengan strategi marketing dan memilih tanggal rilis untuk mendukung konten yang kita rasa sudah memenuhi standarnya. (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri