BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)
Tagar #2019GantiPresiden Cuekin Saja

Meskipun dalam kompetisi elektoral, perang isu sudah menjadi hal yang lumrah. Tetapi jika perang isu tersebut melampaui batas dan melanggar rambu-rambu konstitusi, maka jelas menimbulkan persoalan. Seperti halnya soal tagar #2019GantiPresiden. Ketika tagar tersebut hanya sebatas wacana di ruang udara (media sosial), tidak menjadi persoalan serius. Namun ketika berubah menjadi aksi long march seperti yang dilakukan oleh segerombolan massa berseragam kaos bertuliskan #2019GantiPresiden dapat menodai dan mencemari ruang publik di kawasan Bundaran HI.

Tentu saja, bagi publik yang hendak menikmati Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day) telah kehilangan haknya. Kawasan Car Free Day (CFD) memang diperuntukkan bagi masyarakat umum untuk menikmati suasana yang bebas dari kebisingan dan polusi kendaraan bermotor satu kali dalam seminggu. Namun, suasana CFD di hari minggu (29/04) yang semestinya dinikmati warga justru tercemari oleh aksi berbau politik.

Kerumunan orang yang mengenakan kostum berseragam dengan tagline bertagar #2019GantiPresiden yang disertai yel yel "2019 Ganti Presiden" sangat jelas. Selain ada muatan politik, aksi tersebut telah melanggar Pergub No.12 tahun 2016. Dalam Pasal 7 ayat 2 disebutkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan partai politik dan SARA serta orasi ajakan yang bersifat menghasut. Karena itu, justru aneh jika ada orang mengatakan aksi tersebut tidak bermuatan politik.

Hanya orang yang tidak paham atau pura-pura tidak paham yang mengatakan aksi dengan tagar tersebut tidak bermuatan politis. Pasalnya, aksi dengan tagar #2019GantiPresiden jelas mengandung maksud tentang pemilu presiden yang akan digelar pada 2019 yang akan datang. Jadi sangat jelas pesan yang terkandung dalam tagar tersebut adalah pesan kampanye  untuk mengganti presiden lewat Pemilu 2019.

Singkat kata, tagar tersebut sengaja dibuat untuk mempengaruhi publik (pemilih) agar tidak memilih Jokowi sebagai petahana. Untungnya, bunyi tagarnya bukan #Sebelum2019GantiPresiden. Jika kalimatnya seperti itu, maka gerakan tersebut bisa dikategorikan makar atau tindakan subversif, yaitu upaya kudeta atau penggulingan kekuasaan yang sah.

Dalam kontek strategi komunikasi politik, tagar #2019GantiPresiden merupakan bagian dari propaganda politik untuk mempengaruhi psikologi pemilih. Ini merupakan ide yang cukup cerdik. Si pembuat tagar nampaknya sudah menyusun berbagai strategi agar pesan dalam tagar tersebut menjadi viral dan memiliki pengaruh secara elektoral. Alhasil, strategi untuk membuat tagar tersebut viral cukup berhasil ketika Presiden Joko Widodo dan pihak istana serta elit partai pendukung Jokowi terpancing menanggapi tagar tersebut. Itulah momen yang ditunggu.

Padahal jika presiden dan pihak istana serta elite partai pendukung Jokowi tidak terpancing mengomentari dalam ruang publik secara terbuka, bisa jadi situasinya berbeda. Mungkin pengaruhnya tidak sebesar sekarang. Jika seandainya posisi saya dekat dengan presiden, saya akan membisikkan ke telinga Presiden Jokowi dengan lembut saya akan berkata, “pak.. tagar #2019GantiPresiden tidak perlu ditanggapi serius, cuekin saja, karena tagar tersebut sebenarnya merupakan reaksi dari tagar tagar sebelumnya yang mendukung bapak menjadi presiden dua periode”. Tagar #2019GantiPresiden itu menunjukkan kedangkalan lawan politik bapak yang sudah kehabisan isu untuk menyerang bapak. Mereka sudah berkali-kali melakukan serangan ke bapak tetapi gagal. Toh hasil survei juga masih menunjukkan dukungan paling tinggi tetap nama bapak. Mereka sangat memahami kondisi itu. Karenanya mereka sengaja melakukan psywar (psychological warfare) atau perang urat syaraf untuk menyerang bapak dari sisi psikologi. Mereka sedang memasang "jebakan Batman" agar bapak masuk dalam perangkap mereka. Ibarat perang, bapak jangan sampai terjebak ke dalam "The Killing Fields".  Maka lebih baik didiamkan saja tidak perlu ditanggapi.

Biarlah tagar itu menjadi konsumsi publik terbatas. Bapak tidak perlu kuatir. Toh pendukung bapak jumlahnya lebih besar dan cukup aktif di media sosial. Biarkan isu itu berhenti di level relawan dan para komentator. Kira-kira begitulah bunyi bisikan saya kepada Presiden Jokowi. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF