BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Arsitek, Aktivis dan Penulis
Tentara? Jangan Lepas Senjatamu

Saya selalu memandang pesimis, terhadap kehadiran tentara dalam peta politik nasional. Soalnya, sepak terjang politikus dari kalangan sipil sangat dominan pasca Orde Baru. Dan dalam permainan catur posisi  tentara tiba-tiba menjadi benteng. Mulai dari Raja, Menteri, Gajah, Kuda sampai prajurit (pion) semuanya dikuasai kalangan sipil. Butuh sebuah perang besar sekelas perang kemerdekaan 1945-1949 untuk merebut simpati rakyat terhadap tentara dalam kancah perpolitikan jaman now. Tanpa, kejadian tersebut, sukar dan hanya menjadi 'orang-orang yang diceburin' dalam berbagai pentas.

Tentara; pasca Orde Baru praktis nongkrong di barak. Semua Undang-Undang mengharuskan mereka untuk konsentrasi dalam kancah pertahanan negara yang bobroknya bukan main. Kapal-kapal nelayan asing berseliweran, pasir di kepulauan Riau dikeruk semena-mena untuk menimbun pulau Singapura, belum lagi industri persenjataan yang miskin riset dan kekurangan uang. Armada laut, kapal selam jauh panggang dari api. Tanpa persenjataan modern lengkap dan canggih sungguh sukar bertempur dalam medan perang yang sarat teknologi.

Tentara, mustinya tidak tergoda dengan politik. Dan tidak boleh juga, tiba-tiba menjadi: yang paling nasionalis melebihi semuanya. Sedang-sedang saja; karena para tokoh sipil rata-rata anak-anak pejuang kemerdekaan. Siapa pula yang berani meragukan nasionalismenya: Megawati? atau nasionalismenya para Kyai jebolan Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Kita masih mimpi, bapaknya dan organisasinya sudah pernah membunuh tentara Belanda (dalam pengertian bunuh beneran ya, bukan bunuh ecek-ecek). Jadi, bapaknya mengusir para penjajah dengan menggadaikan nyawanya di urat leher.

Jadi, para tentara, mohon jangan tergoda dengan kekuasaan politik. Gak penting itu. Para Sparta, dalam kajian sejarah adalah para ahli tempur. Jika mendapat perintah dari Athena (politik) untuk berperang, tolong jangan sampai gagal. Jika musti menginvasi ke planet Mars untuk membunuh para Alien, pastikan perintah tersebut dapat dieksekusi dengan sempurna. Karena disitulah letak kebanggaan rakyat kepada para tentara (petempur). Penghargaan dari rakyat, untuk tentara adalah senjatanya. Bukan pada omong-omong politik seperti politikus yang suka ingkar. Janji tentara (sapta marga) adalah sumpah.

Oleh sebab itu; ketika tentara terjun ke politik, ingin menjadi gubernur; pertanyaan paling dasar adalah: Apa sudah gak ada kerjaan lain? Bereskan dulu pasukanmu. Culun banget armada tempur kita hari ini. Kami menginginkan 200 pesawat tempur terbaru, 100 kapal selam, 10 kapal induk dan ribuan pucuk senjata tempur paling canggih segera hadir di negeri ini. Meluncurkan satelit mata-mata ke angkasa dan melindungi semua kepentingan politik Indonesia di luar negeri. Jika terpaksa terjadi: Perang Dunia ke-3 hari ini, kami menginginkan kita (Indonesia) tampil sebagai pemenang.

---Kamu mimpi bung Murni?

---Ahh..tentara macam apa kau ini. Pengecut, berjanji saja kau redup, apalagi bertempur.

(cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik