BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)
Tidak Ada Tafsir yang Bersifat Mutlak

Sebelum membahas Harun Yahya, perlu saya jelaskan dulu upaya para penulis untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan sains. Perlu dipahami, Alquran bersifat mutlak sedangkan sains bersifat relatif. Tidak bisa sains yang bersifat relatif langsung menjelaskan ayat-ayat Alquran yang bersifat mutlak. 

Yang dilakukan para penulis adalah menafsirkan Alquran dan menafsirkan sains agar dipahami awam. Penggabungan hanya pada tataran tafsir. Penafsiran Alquran perlu ilmu Alquran, sedangkan penafsiran sains perlu pemahaman sains itu sendiri. Artinya, kalau seorang penulis bukan ahli ilmu Alquran perlu merujuk pada tafsir umum yang sudah dibuat oleh ahli ilmu Alquran. Demikian pula, kalau bukan saintis pada bidangnya kadang tidak tepat menafsirkan sains.

Buku yang menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan sains kadang terjebak pada "pencocokan" yang menyimpang dari ilmu Alquran maupun sains karena yang menulis bukan ahlinya. Tafsir sains kadang juga terjebak pada pseudosains (sains semu) karena penulisnya bukan saintis pada bidang tersebut. Tafsir biologi paling tepat oleh ahli biologi, demikian juga tafsir astronomi oleh ahli astronomi.

Contoh, teori evolusi sering disalah-pahami karena penulisnya bukan ahli biologi, namun menafsirkan teori evolusi dengan ilmu lain, misalnya dicampuradukkan dengan sosiologi. Sains sering digunakan sebagai alat untuk memahami ayat-ayat Alquran tentang fenomena alam dan kehidupan makhluk hidup. Namun tafsir terus berkembang sejalan perkembangan sains dan batasan wawasan penulisnya. Tidak ada tafsir yang bersifat mutlak.

Harun Yahya dikenal karena paparannya yang menarik dengan gambar-gambar dan video. Gambar-gambar dan video sangat meyakinkan bagi orang awam, walau saintis mengetahui banyak informasi Harun Yahya yang keliru. Namun popularitas kadang lebih mempengaruhi opini publik.

Sosok sebenarnya Harun Yahya memang tidak banyak dipublikasikan. Orang hanya kagum dengan buku/video yang penuh gambar. Saya sendiri tidak pernah tertarik dengan buku-bukunya karena tahu banyak yang bersifat pseudosains.

Kita tidak boleh menganggap semua tafsir ilmiah sebagai "pencocokan". Tafsir ilmiah diperlukan untuk menjelaskan ayat-ayat tentang fenomena alam atau kehidupan. Contohnya, Alquran sering menyebut "tujuh langit". Sains yang harus menjelaskannya. Tafsir tujuh langit berubah sepanjang sejarah perkembangan sains.

Saat ini kita "berperang" di era informasi. Informasi yang keliru selalu ada, di samping banyak informasi yang benar. Kementerian Agama telah lama membentuk Tim Tafsir lintas disiplin ilmu untuk membuat tafsir Alquran sesuai sains yang benar. Saya termasuk anggota tim tafsir untuk ayat-ayat yang terkait astrononi. Tafsir ilmiah dimaksudkan untuk "melawan" buku-buku tafsir ilmiah yang hanya didasarkan pada pseudosains. Buku-buku tafsir ilmiah versi Kementerian Agama saat ini telah banyak disebarkan. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF