BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta
Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir 2019 diperkirakan hanya berkisar 5,05 persen. 

Saat ini yang dapat dikedepankan agar tetap menjaga pertumbuhan ekonomi ada di kisaran 5 persen adalah bagaimana sektor konsumsi rumah tangga dijaga agar dapat tumbuh di atas 5 persen karena konsumsi menjadi sektor yang merupakan kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi.

Terjadinya perlambatan ekonomi nasional sedikit banyak karena perlambatan ekonomi global yang mempengaruhi perekonomian nasional, sehingga Indonesia yang telah terlalu lama tergantung pada ekspor komoditas menjadi tidak siap ketika ekonomi dunia melambat dan menyebabkan harga minyak sawit dan batubara mengalami penurunan.

Lagipula faktor di dalam negeri ekspor menjadi tidak tumbuh karena produksi tidak sebagaimana diharapkan. Juga, impor bahan baku dan barang modal yang juga menurun. Padahal, impor bahan baku dan barang modal saat ini masih sebagai penggerak produksi utama sampai saat ini.

Turunnya impor bahan baku dan barang modal merupakan indikasi melambatnya pertumbuhan produksi sektor industri manufaktur. Jika produksi semakin menurun dikhawatirkan akan berimbas pada penyerapan tenaga kerja dan menurunnya daya beli konsumen, yang selanjutnya menurunkan pertumbuhan ekonomi. 

Oleh karena itu menjadi mendesak untuk dilakukan peninjauan kembali struktur industri nasional, diantaranya agar secara domestik Indonesia dapat memproduksi sendiri bahan baku dan barang modal yang digunakan untuk produksi. 

Strategi industrialisasi ke depan harus semakin mempertimbangkan keterkaitan antar industri sehingga dapat menghasilkan multiplier yang lebih besar. Struktur industri yang kuat akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional terhadap goncangan global. Untuk mewujudkan industri yang kuat KEIN telah menyiapkan road map industrialisasi sampai dengan 2045. 

Suatu konsep yang bagus harus terimplementasi dengan baik pula. Untuk mendukung implementasi kebijakan yang efektif kata kuncinya adalah monitoring dan evaluasi yang lebih bekualitas, baik dari segi frekuensi waktu untuk segera mengetahui perkembangan kinerja maupun kualitas kinerjanya.

Lain hal, masalah investasi kembali pada masalah yang telah lama namun sayangnya belum cepat diperbaiki segala permasalahan yang selalu mengganggu iklim investasi. Baik PMDN maupun PMA yakni masalah perizinan dan birokrasi, upah buruh dan produktivitas buruh. 

Itulah mengapa ketika sekitar 33 industri China yang memidahkan operasional pabrik dari China ke luar China akhirnya lebih memilih Negara seperti Vietnam dan kamboja. Sebabnya adalah di Negara-negara tersebut, ada tiga aspek yang membuat investor China lebih tertarik memindahkan industrinya ke Vietnam dan juga Kamboja, yakni masalah Kemudahan Perizinan, Upah Buruh dan Produktivitas Pekerjanya.

Di Indonesia meski pekerja sudah bekerja dalam 3 shift dan 48 jam seminggu, namun soal produktivitas masih perlu ditingkatkan

Belum lagi setiap tahun masalah upah pekerja minta dinaikkan dan selalu menjadi bahan protes pekerja kepada industri. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!             Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian             Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong