BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)
Ukur Kinerja Pertanian Tak Bisa Satu Sisi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan sektot pertanian pada Triwulan I 2019 sebesar 1,81 persen.  Pertumbuhan sebesar ini menunjukkan kinerja yang buruk.

Untuk penghitungan ekspor, yang harus dihitung adalah ekspor bersih (net export), tidak hanya satu sisi. Untuk komoditas daging, misalnya, Indonesia mampu mengekspor sapi dari Bali dan NTT yang memiliki kualitas bagus. Tetapi harus juga dihitung impornya yang ternyata lebih besar dari nilai ekspor.

Demikian juga dengan jagung yang  tercatat tidak ada pembelian dari luar negeri  untuk komoditas tersebut. Tidak ada  catatan impor jagung di BPS bukan berarti Indonesia sudah swasembada atau tidak membutuhkan lagi, tetapi karena tidak dikeluarkannya izin impor. Imbasnya justru ke harga pakan yang menjadi mahal karena harus menggunakan gandum.

Untuk menunjukkan kinerja kementerian bukan dengan cara yang manipulatif seperti itu. Untuk mengetahui kebenaran produktivitas satu sektor bisa dilihat data yang disajikan oleh BPS secara resmi, tidak bisa secara parsial.

Harus diakui kinerja sektor pertanian menurun. Kesejahteraan petani ikut menurun. Berdasarkan data BPS, nilai tukar petani (NTP) per Maret 2019 sebesar 102,73, turun 0,21 basis point dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 102,94. Penurunan itu dikarenakan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih rendah dibandingkan peningkatan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga dan keperluan produksi pertanian.

Selain itu, Bulog juga tidak mau menyerap beras dari petani karena sudah kelebihan stok yang berasal dari impor sehingga petani kehilangan pendapatan dari penjualan beras.

Untuk mengukur kinerja tidak bisa hanya dari satu aspek. Misalnya, konsumen senang karena tidak ada tekanan kenaikan harga beras. Tentu saja hal ini bisa terjadi  karena Bulog kelebihan stok yang membuat persediaan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Akibat Jalan Non Tol Tak Dipelihara             Catatan YLKI untuk Mudik Lebaran 2019             Tipis Prabowo-Sandi Menang di MK             Putusan MK Tidak Mengakhiri Polemik Pilpres 2019             LGBTIQ Merupakan Pilihan dan Hak Asasi             Asumsi RAPBN 2020 Sulit Tercapai             Strategi Ekspansif Tak Tampak di RAPBN 2020             Transisi Darurat (Demisioner) Permanen????             Membangun Sambil Menindas             Mitigasi Pengaruh Kejadian Politik terhadap Kegiatan Ekonomi