BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Rafe’I Ali Institute, Penulis, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’il Anwar, Banten
Urbanisasi Karena Pendidikan Bukan Hanya Fisik

Pembahasan tentang pendidikan sebagai kontributor urbanisasi sangat jarang dikaji. Namun, di kalangan pemerhati agraria, ini menjadi salah satu topik penting. Selama ini kita menganggap urbanisasi adalah perpindahan dari desa ke kota. Jadi, hanya sebatas perpindahan fisik. Nyatanya, bukan hanya itu saja. Para pakar agraria Apt Leverbe mengatakan bahwa urbanisasi sangat terkait dengan 'perpindahan' gaya berkehidupan. 

Saat orang desa pergi ke kota, untuk kerja atau kuliah, hal ini bukan sebatas pindah fisik, tetapi juga perpindahan gaya berkehidupan. Hidupnya sudah menggunakan gaya kota, yakni cara berpikir kota yang tidak bisa hidup tanpa fasilitas bagus.

Desa dilabelkan dengan ketertinggalan, kerap disimbolkan melalui ujaran-ujaran yang mengandung makna keterbelakangan: bodoh, miskin, udik dan sebagainya. Sementara kota menjadi simbol kemajuan, kepintaran, sekaligus keangkuhan. Pelabelan ini yang membuat sebagian besar orang tidak mau tinggal di kampung. Artinya, frame desa dan kota mencakup cara pandang sekaligus cara hidup. Sejatinya, hidup di kota tidak bisa menggunakan cara kampung, demikian pula sebaliknya. 
 
Stigma yang terbenam lama itupun menjadi alasan orang-orang desa pergi ke kota. Dengan dalih memperbaiki kehidupan, desa-desa ditinggalkan. Bukan hanya desa, kebijaksanaan lokal pun dicampakan. Urbanisasi memang bukan hanya perpindahan penduduk dari desa ke kota, melainkan juga tentang perubahan seluruh cara  berkehidupan.

Sekarang ini perilaku koruptif bukan milik orang desa semata jika kita mengkaitkan orang tidak mau pulang kampung karena anggaran desa banyak dikorupsi. Korupsi adalah milik orang Indonesia seutuhnya. Ini merupakan tanggungjawab kita semua.  

Mulai saat ini, haruslah kita imbau kepada siapa saja generasi muda yang ingin melanjutkan sekolah hingga ke tingkat universitas bahwa sekolah itu bukan hanya untuk bekerja saja, tetapi juga buat berpikir, memiliki cara pikir yang bagus.

Ada dua solusi terkait dosa dunia pendidikan dalam urbanisasi. Pertama, melalui intervensi pemerintah, mesti ada dari dana desa yang dialokasikan untuk memberikan beasiswa kepada orang terbaik di desa agar mengenyam pendidikan tinggi. Jurusan atau program keahliannya pun harus disesuaikan dengan potensi desa. Misalnya jurusan pertanian, perkebunan, teknologi pangan, perikanan, kelautan, pariwisata dan sebagainya. Pemerintah, melalui kementerian terkait seperti Kementrian Desa, Kemendikbud, Kemenristekdikti, Kementerian Pertanian, Kementerian Perikanan dan Kelautan, Kementerian Pariwisata dan sebagainya, harus membuat semacam kerjasama berkelanjutan. 

Kedua, pemerintah harus menambah pusat-pusat pendidikan keterampilan di desa. Sekolah kejuruan dan perguruan tinggi berbiaya murah yang coraknya sesuai dengan keunggulan desa-desa di sekitarnya harus ditambah. Misalnya sekolah kejuruan dan perguruan tinggi dengan corak pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan dan pariwisata. Target minimalnya, agar orang desa bisa mengelola sumber daya desanya sendiri.

Hitunglah berapa orang kampung membuat perubahan? Sedikit sekalidibandingkan rumah di kampung menjadi bagus, pola pikir tetap begitu, ini PR besar dunia pendidikan, dunia pendidikan membuat orang terbaik tinggal di kota dan balik kekampung memperlakukan seperti kota, seperti ada kata kampungan dan tidak mau megang cangkul, terutama orang terdidiknya dan merasa gue orang terdidik dan tidak layak melakukan hal yang tidak terdidik.

Harapan saya untuk Anda yang berstatus sebagai orang kampung yang menetap di kota dengan tujuan membangun karir di sana, Anda tidak boleh lupa dengan asal Anda, kalau Anda tidak bisa pulang, Anda bisa berkontribusi dengan cara lain. Ada banyak cara untuk mereka yang memilih hidup di kota, mereka bisa berjejaring. Anda boleh di kota tetapi energinya di kampung. Jangan melupakan kampung yang berujung kampung hanya untuk gelar kubur di kampung, orang kampung hanya dapat bangkai. (win)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF