BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dewan Pakar PA GMNI
Waste Management-Tipping Fee, Solusi Limbah Plastik.

Mengenali permasalahan dampak lingkungan akibat sampah industri dan rumah tangga berupa limbah plastik haruslah secara komprehenshif, yaitu mulai hulu hingga hilir.

Tahap hulu adalah zona sumber dan bahan baku plastik (resin), proses pabrikan, dan jenis teknologi yang digunakan. Sedangkan Proses Hilir adalah zona pembuangan sampah (Tipping Fee, TPST/TPA) dan pengelolaan sampah plastik (3R). Plastik juga perlu dipandang sebagai "sahabat" peradaban manusia. Bukan musuh! Ini soal mind-set. Jadi menurut hemat saya, tidak perlu bersikap ekstrim terhadap fungsi plastik sehingga bersikap zero plast, yaitu menghilangkan semua fungsi plastik dan kembali ke peradaban purba.

Plastik sebagai sahabat peradaban, berbeda dengan Limbah plastik. Limbah tergolong bahan beracun berbahaya  (B3) yang jika tidak terkelola maka akan mencemari dan membebani lingkungan.

Pengelolaan Limbah dan sampah wajib dikaitkan dengan kebijakan Tipping Fee, yaitu biaya jasa lingkungan yang wajib dikeluarkan oleh produsen sampah atau limbah (industrialis) beserta pemerintah untuk pengelolaan sampah dan limbah pada sejak dari Bak Sampah Rumah Tangga.

Nah, disini banyak orang yang melihatnya secara puzzle saja. Padahal jangan dikira tidak ada peran dan tanggung jawab kalangan Industri dan pemerintah (pusat dan Daerah) dalam hal ini. Justru peran keduanya sangat penting.

Ada istilah di kalangan pemerhati sampah yang bunyinya: polluters pay principle.  Pembuat sampah wajib ikut bertanggungjawab.

Sampah dan limbah plastik yang termakan oleh ikan paus di laut Norwegia hanyalah contoh kecil bak "puncak gunung es" dari permasalahan sampah plastik di dunia. Cara pandang kita juga harus objektif terhadap fungsi plastik sebagai sahabat manusia selama berabad-abad.

Di Indonesia, problem sampah plastik selalu muncul di kota-kota besar, akibat penggunaan bahan plastik sebagai kemasan yang sudah sangat masif.

Selain rasionalisasi anggaran pengelolaan sampah atau Tipping Fee,  maka harus pula diterapkan prinsip waste management  yang modern, profesional, dan ramah lingkungan.

Saat ini sudah ada teknologi bioplastik maupun bahan kimia yang dapat membuat produk bahan plastik menjadi cepat mudah terurai di alam. Tidak lagi  hingga ratusan tahun. Yaitu dengan Teknologi "bioplastik" dan teknologi Oxo-degradable. Tentang hal ini perlu penelitian lebih lanjut bila akan dijadikan dasar kebijakan pemerintah. Ke depannya bila terjadi lagi penemuan kemasan plastik di perut ikan paus, maka tidak usah lagi disuntik mati. Karena tak lama lagi bahan plastik yang tertelan itu akan terurai secara alami sehingga aman bagi perut ikan paus karena sudah bersifat ramah lingkungan. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!