BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Bloger - Pengamat Media Sosial dan Teknologi Informasi
`With Great Power, Comes Great Responsibility`

Sekarang Go-Jek jadi lokomotif industri digital Indonesia. Karena mereka sudah menemukan bagaimana dapat revenue (penghasilan) dari business model-nya. Maka kemudian banyak yang invest pada mereka. Sekarang kita tak bisa lagi lihat Go-Jek semata sebagai pengganti ojek tradisonal, layanan Go-Food atau "Go-" yang lain. Ke depan, mereka akan menggunakan kemampuan, kapabilitas dan juga dana yang mereka punya untuk explore bidang-bidang lain yang bisa dilayani secara digital juga. Saya rasa bentuknya kan tetap ada hubunagn dengan (layanan) Go-Jeknya, tapi tak tertutup kemungkinan mereka akan bikin produk atau layanan lain yang betul-betul nggak ada hubungannya. 

Analogi yang cocok untuk Go-Jek kalau di Amerika sebetulnya Google. Google awalnya hanya mesin pencari, lalu mereka menemukan bagaimana mendapat revenue, lalu mereka dapat develop apa pun dan membeli perusahaan lain. Mereka beli YouTube, bangun Google Maps, G-mail dll. Awalnya itu semua tak menghasilkan uang, tapi kemudian itu semua bisa jadi sumber revenue

Harapan saya ke Go-Jek, sebenarnya, lewat investasi ini mereka bisa makin banyak berinovasi. Mereka bisa mencari sektor apalagi yang tertinggal untuk bisa di-explore. Di Amerika ada Google. Di Jepang dan Korea ada Line. Mereka sudah menemukan line of revenue hingga bisa menggurita di berbagai hal.  

Mengenai potensi Go-Jek menggurita, monopolistik, serta kekhawatiran pemanfaatan data konsumen, semua itu balik ke tiga aspek: ada konsumen, bisnis dan regulator. Maka, yang tak boleh ditinggalkan dari ini semua adalah dari sisi regulasinya. Google, misalnya, dengan kemampuannya bisa banget tak menghormati hak-hak privasi penggunanya. Makanya, mantranya di internet: Don't do evil. Harapan saya, Go-Jek mengikuti jejak yang sama. Dia mengerti posisinya krusial, orang banyak menggantungkan hidupnya pada Go-Jek. Agar itu tak terjadi, maka harus ada yang mengawasi. Itu terjadi di Amerika dan Eropa. Prinsipnya, semakin besar perusahaan dan tak terpisahkan bagi kehidupan orang, maka regulator semakin kencang mengawasi. 

Sayangnya, sebetulnya, orang Indonesia sepertinya tak terlalu peduli dengan pemanfaatan data di dunia digital. Belum ada yang teriak-teriak soal penggunaan data. Maka, perlu ada LSM atau lembaga perlindungan konsumen yang peduli akan hal ini. Juga masalah keamanan data. Perusahaan macam Go-Jek punya tanggung jawab melindungi data konsumennya dari pencurian data atau saldo. Seperti tagline-nya film Spider-Man: with great power, comes great responsibility

Di dunia digital ada yang namanya analisa data. Itu tak hanya terjadi dengan Google, tapi perushaan e-commerce juga mempraktekkannya. Yang tidak dibenarkan adalah penggunaan data per individu. Yang terjadi sekarang, perusahaan seperti Tokopedia dan Bukalapak mendapatkan jutaan data setiap hari: preferensi, cara bayar, bahkan ada hari sepi dan ramai. Di Go-Jek, lebih krusial, karena bisa melihat pergerakan orang. Jika pertanyaannya apa penggunaan data tersebut akan disalah-gunakan? Maka, pengunaannya harus ada batasannya. 

Pada prakteknya, ada semacam trade-off (pertukaran timbal balik): "Anda menggunakan layanan saya, maka saya menggunakan data Anda." Sepanjang data itu digunakan oleh si perusahaan tak mengapa, tapi jika data itu digunakan atau dijual oleh pihak ketiga, itu yang dianggap mengkomersilkan data yang digali sendiri. Buat saya, selama konsumen masih dapat benefit (dari penggunaan datanya oleh perusahaan); konsumen dilayani dan tak diperlakukan buruk, itu saya masih bisa terima. Itu cukup balance dari (layanan) apa yang sudah kita dapatkan.

Tapi dalam kasus invasion of privacy atau ada data yang dikatakan mereka (perusahaan) bakal simpan tapi ternyata data itu keluar, entah dijual atau karena kesalahan keamanan entah di-hack, mereka harus bertanggung jawab. Kalau konsumen betul-betul khawatir, konsumen bisa membentuk asosiasi yang bisa menyeruakan kepentingan konsumen ke regulator, entah di DPR atau pemerintah. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik