BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Komunitas Perokok Bijak Nusantara 
Yang Perlu Diedukasi Bukan Anak, Tapi Orangtua dan Guru

Di komunitas perokok bijak sudah firmed, sudah clear bahwa kami tidak setuju ada perokok anak. Rokok hanya untuk konsumsi orang dewasa. Itu clear sikap kami. Ketika kemudian ada video viral anak SD merokok, kami
concern hal itu tak sepatutnya terjadi. Namun, pertanyaannya, kenapa hal itu terjadi? Kenapa anak-anak amsih bisa merokok? 

Di kami, komunitas perokok, kami sudah menyepakati bahwa kita anti pada perokok anak sampai pada kita anti menyuruh anak beli rokok. Umpamanya, aku kepingin merokok, tapi lagi banyak kerjaan di rumah, lalu aku suruh anakku yang beli rokok. Itu tindakan salah. Kami tidak akan melakukan itu. 

Tapi, kenapa hal itu masih terjadi? Masalahnya, ada di penegakan aturan. Kalau aturannya jelas, rokok hanya diijinkan untuk yang berusia 18 tahun ke atas, hal seperti ini ta perlu terjadi. Maka, yang menjadi concern perhatian penting adalah orangtua dan guru. Kepada anak yang kedapatan merokok mestinya ada peringatan dari guru sampai pada tahapan anak itu bisa dikeluarkan dari sekolah.  

Namun, itu tidak dilakukan. Guru malah sibuk dengan gerakan anti-rokok, mengajak anak-anak melepas kecanduan pada rokok dan sebagainya, itu tak berhasil karena sudah kadung (kecanduan). Guru juga sudah terlibat dalam wilayah-wilayah perseteruan bisnis. Umpamanya begini, ada anak kedapatan merokok, diberi teguran satu, kedapatan lagi, diberi surat untuk orangtua, sampai ketahuan lagi (diancam) dikeluarkan, kira-kira anak itu akan merokok atau tidak? Pasti takut merokok, kan. Sayangnya kini guru tak melakukan itu. Jadi, menurut saya, yang perlu diedukasi bukan anaknya, tapi guru dan orangtua. 

Soal akses rokok yang mudah bagi siapa saja, termasuk anak-anak, pertanyaannya bisa begini: dulu ada lokalisasi (pelacuran), bagaimana bisa menjamin lokalisasi tersebut tak dikunjungi anak-anak? Begitu juga soalnya dengan rokok. Kami menghimbau kepada pedagang rokok jangan menjual rokok pada anak-anak, atau pada mereka yang masih berseragam sekolah. Itu kami lakukan. Tapi kalau muncul anggapan rokok gampang didapat, alkohol juga gampang didapat. Hal-hal yang lain (pornografi, misalnya) juga gampang diakses. Semuanya gampang diakses.

Jangan publik hanya mempermasalahkan di pedagang rokok dan perokoknya. Kesalahan (munculnya perokok anak) ini juga berasal dari lingkungan internal, seperti keluarga mereka. 

Merokok sampai hari ini bukan tindakan yang melanggar hukum. Membeli rokok sampai hari ini masih dianggap tindakan yang sah karena rokok adalah produk legal. Ketika kemudian ada masalah anak-anak merokok dan sebagainya jangan disalahkan merokoknya, tapi mari kita lihat akar permasalahannya. Kalau karena faktor lingkungan, itu juga masalah aturan. Nggak usah jauh-jauh, misal soal anak naik motor. Aturannya kan mengatakan yang naik kendaran harus punya SIM. Untuk punya SIM minimal berusia 17 tahun. Lalu kenapa anak SMP ada yang naik motor? Itu harus ditindak. Yang salah kan yang tak menegakkan aturan, bukan (industri) motornya. Begitu juga dengan rokok. (ade)    

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF