BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF
Badai (Belum) Pasti Berlalu untuk Kelapa Sawit

Ungkapan badai pasti berlalu tidak berlaku bagi kelapa sawit Indonesia. Pasca dimenangkannya gugatan Indonesia terhadap kebijakan Uni Eropa atas pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) atas produk biodiesel asal Indonesia di World Trade Organization (WTO), masih ada aral rintangan untuk sawit kita.

Seperti diketahui, kebijakan  Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) yang diberlakukan atas minyak sawit (biodiesel) Indonesia sebesar 8,8 persen-23,3 persen dimulai sejak mulai 2013.  Alhasil, sejak saat itu ekspor biodiesel Indonesia ke UE mengalami penurunan sebesar 42,84 persen, dari 649 juta dolar AS turun menjadi 150 juta dolar pada 2016. Nilai ekspor biodiesel anjlok paling rendah pada 2015, hanya sebesar 68 juta dolar AS.

Meskipun sudah bisa bernafas lega untuk sementara, setidaknya masih ada 3 rintangan yang bakal menghadang kelapa sawit. Pertama, rencana Uni Eropa menghapus penggunaan Biodiesel per 2030. Secara bertahap per 2021 , biodiesel Indonesia direncanakan tidak bisa masuk Uni Eropa dengan alasan pengelolaan sawit terkait dengan etika lingkungan yang masih dipermasalahkan oleh Uni Eropa.  Kedua, bea masuk ketentuan Departemen Perdagangan Amerika Serikat (United States Department of Commerce/USDOC) yang telah menetapkan besaran bea masuk anti-dumping untuk produk biodiesel Indonesia dan Argentina pada 21 Februari 2018 lalu, dan ketiga bea masuk kelapa sawit di India setelah diberlakukan pada November 2017.

Meski Uni Eropa bukan pangsa terbesar pasar kelapa sawit, namun posisi kelapa sawit di Uni Eropa strategis. Bagi Uni Eropa, kelapa sawit Indonesia menempati urutan pertama dalam total impor kelapa sawit Uni Eropa. Pada 2016, impor kelapa sawit Uni Eropa mencapai 4,08 miliar Euro (Eurostat, 2016). Impor dari Indonesia merupakan yang terbesar dengan besaran 1,95 miliar Euro (47,79 persen). Malaysia menjadi negara kedua asal kelapa sawit di Uni Eropa. Impor produk kelapa sawit Uni Eropa dari Malaysia per 2016 mencapai 1,19 miliar Euro (28,19 persen). Sedangkan sisanya berasal dari negara lainnya dengan jumlah impor 0,98 miliar Euro (24,02 persen).

Pangsa terbesar ekspor kelapa sawit Indonesia, secara volume, adalah India dan China. Pada 2016, ekspor kelapa sawit Indonesia ke India mencapai 5,4 juta ton. Sedangkan ekspor ke China sebesar 3,1 juta ton. Pada urutan ketiga ke  Pakistan dan keempat ke Spanyol mencapai masing-masing 2,1 juta ton dan 1,1 juta ton.

Pada prinsipnya, mempertahankan pangsa pasar ekspor adalah penting. Berapapun persentasenya. Terlebih apabila di dalam region tersebut produk Indonesia merupakan nomor satu. Itulah mengapa pasca dimenangkannya gugatan Indonesia terhadap Uni Eropa, Indonesia tidak bisa berpangku tangan. Ada non tariff entry barrier ke Uni Eropa yang masih menjadi PR besar Indonesia: isu kelapa sawit yang berkelanjutan.
 
Bagaimanapun juga, pengelolaan kelapa sawit harus berwawasan lingkungan dan bersifat inklusif. Namun di sisi lain, pemerintah perlu melobi terkait dengan indikator-indikator yang tertuang dalam ISPO (Indonesia Susatainable Palm Oil) diakui oleh RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang menjadi syarat sertifikasi lingkungan masuknya kelapa sawit ke Uni Eropa.

Meski semua kelapa sawit Indonesia sudah sertifikasi RSPO, namun ada satu tantangan yang sifatnya jangka panjang, rencana Uni Eropa menghilangkan penggunaan biodiesel per 2030. Hal ini dipastikan akan mengancam ekspor kelapa sawit Indonesia di masa depan. Pemerintah harus mencari alternatif jalan keluar atas rencana tersebut.

Setidaknya ada dua hal utama yang harus dilakukan, pertama mengembangkan pasar biodiesel dalam negeri. Hal ini sejalan dengan usaha pemerintah dalam rangka mengurangi ketergantungan energi fosil dalam penggunaan energi di Indonesia. Kedua, mencari alternatif pasar baru. Negara-negara Eropa Timur, Asia Selatan dan Amerika Selatan adalah kawasan yang bisa menjadi pangsa pasar baru kelapa sawit kita. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Morality has Nothing in Common with Politics             Penggalangan Donasi Prabowo: Wujud Keraguan Dirinya dalam Pilpres 2019             Stabilitas atau Pertumbuhan?             Suku Bunga Acuan Hanya Efektif dalam Jangka Pendek             Dana Politik = Partisipasi Publik             Tamparan Kepada Legislator Gerindra             Pragmatisme Pemilih             Peran Publik dalam Pendanaan Partai Harus Didorong             Biaya Politik Capres             Donasi Politik dan Kedewasaan Berpolitik