• Selasa, 5 Juli 2022

Tukang Karikatur dan Gapura Lapang Merdeka Kota Sukabumi

- Senin, 10 Januari 2022 | 10:30 WIB
Gapura Lapang Merdeka Kota Sukabumi
Gapura Lapang Merdeka Kota Sukabumi

Salah satu ruang publik terluas di Kota Sukabumi telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Sukabumi. Artinya, peresmian ini telah membuka pintu masuk bagi seluruh warga Kota Sukabumi dalam memanfaatkan Lapang Merdeka untuk beragam aktivitas fungsi utama sebuah lapang terbuka. Sebagai salah seorang warga Kota Sukabumi, saya tentu saja harus bangga dengan  kehadiran “wajah baru” Lapang Merdeka yang telah menjadi bagian tidak terpisahkan entah dengan kehidupan pribadi saya atau dengan kisah seluruh warga Kota Sukabumi. Warga Kota Sukabumi dapat saya simpulkan sedang berhagia, dalam benak mereka mungkin saja muncul ungkapan: boga lapang anyar,euy! (Punya lapang baru,euy!).

Tampilan baru Lapang Merdeka tidak sekadar dilengkapi oleh fasilitas-asilitas olahraga luar ruangan, juga dilengkapi oleh ornamen-ornamen penghias lainnya yang memuat simbol-simbol interpretatif, salah satunya gapura berbentuk tumbuhan paku. Penyematan tumbuhan paku terhadap gapura merupakan langkah baru yang diambil oleh Pemerintah Kota Sukabumi setelah beberapa tahun ke belakang, kita sebagai warga Kota Sukabumi masih sibuk melakukan pencarian simbol penting untuk Kota Sukabumi.

Tentu saja, kemunculan replika tumbuhan paku sebagai salah satu ornamen Lapang Merdeka tidak terjadi begitu saja. Gapura Lapang Merdeka dalam bingkai tumbuhan paku merupakan jerih payah pemikiran seorang teman, seorang karikaturis, Nurwenda Juniarta (Jiwenk). Sudah tentu, saya “wajib” bangga dengan alasan desain seorang teman dapat dilihat dan dinikmati oleh warga Kota Sukabumi. Dapat saja, tumbuhan paku ini akan menjadi simbol untuk Kota Sukabumi.

Secara alamiah, usia tumbuhan paku lebih tua dari kehadiran manusia Sukabumi. Tanaman purba dengan usia 360 juta tahun ini telah melalui rangkaian perubahan alam, evolusi, dan mampu bertahan hingga sekarang. Dalam pentas kehidupan, hanya tanaman dan binatang yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang dapat mempertahankan jenisnya selama ratusan juta tahun.

Kita tentu mengalami kesulitan untuk membayangkan kondisi alam dan lingkungan Sukabumi jutaan tahun lalu. Permukaan bumi masih diselimuti oleh tanaman-tanaman purba, ekosistem terdiri dari mahluk tingkat tinggi yang menempati piramida rantai makanan tertinggi. Dalam lingkungan seperti ini, spesies bernama manusia tentu harus berhadapan dengan lingkungan ganas, tanpa adaptasi dan mekanisme bertahan yang baik akan dengan mudah mengalami kepunahan. Atas alasan itulah, kehadiran spesies manusia berperadaban di muka bumi ini, berdasarkan penelitian ilmiah, baru muncul sekitar 70.000 tahun lalu ketika terjadi revolusi kognitif. Jauh sebelumnya, dapat saja diasumsikan telah muncul spesies manusia namun baru menempati piramida makanan pada bagian tengah.

Kemampuan mempertahankan diri tumbuhan paku selama jutaan tahun merupakan bentuk kecerdasan divisi Pteridophyta dalam beradaptasi dengan beragam bentuk lingkungan dan perubahan kondisi alam. Sebagian pihak menyebut tanaman ini sebagai anugerah dari kahyangan. Kecerdasan tumbuhan paku ini telah dibuktikan oleh dirinya melalui penyebaran spora pada proses perkembangbiakannya. Sejak semula ada,360 juta tahun lalu sampai sekarang, tanaman ini tetap melakukan itu.

Di sisi lain, gelombang yang dihasilkan oleh tumbuhan paku juga mampu mengecoh frekuensi mahluk lain untuk memiliki, menyukai, dan mengonsumsinya. Di beberapa daerah, seperti di Sumatera Barat, tanaman ini memang dijadikan penganan gulai paku. Walakin, secara umum, jarang sekali manusia yang tertarik untuk mendomestikasi dan memelihara tanaman ini. Akan berbeda ketika menatap mawar, melati, dan tanaman penghasil bunga, dalam diri manusia muncul hasrat untuk memelihara dan memilikinya. Hal ini tidak berlaku bagi tumbuhan paku, ia akan tetap muncul di berbagai tempat tanpa memerlukan upaya-upaya domestikasi hingga budi daya dan sentuhan tangan manusia.

Simbol sebuah wilayah harus memerhatikan filosofis mendasar yang melekat erat dengan benda atau hal yang disimbolkannya. Tumbuhan paku, karena kemampuan bertahan selama ratusan juta tahun merupakan simbol kekuasaan, kemandirian, dan keajegan. Aplikasi atau penerapannya telah dilakukan oleh kerajaan di Tatar Sunda. Filosofi ini secara perlahan mampu memengaruhi cerita-cerita masa lalu,termasuk dalam pemberian nama untuk kerajaan di Sunda seperti Pakuan Pajajaran. Beberapa obrolan saya dengan Kang Jiwenk sangat kentara, pemilihan tumbuhan paku sebagai salah satu desain yang diikutsertakan dalam lomba desain Gapura Kota Sukabumi tahun 2016 mengisaratkan beberapa hal.

Pertama, kecuali didasari oleh filosofi dan makna besar dan penginterpretasiannya, sebagai sebuah desain, tumbuhan paku akan lebih mudah diaplikasikan atau dipindahruangkan dari konsep desain ke dalam beragam bentuk dimensi,  bukan hanya gapura sebagai portal masuk atau batas kota, juga dapat diaplikasikan ke dalam ornamen lain, hingga cinderamata berukuran kecil. Kedua, pembuatan desain tumbuhan paku dipengaruhi oleh cerita-cerita yang berkembang baik dalam skala kecil (Sukabumi) juga skala luas (Sunda). Pakuan dan cerita Paku Jajar di Gunung Parang menjadi satu landasan pembuatan desain tumbuhan paku ini. Dalam pengaplikasiannya, warga Kota Sukabumi dapat mengamati Gapura Lapang Merdeka merupakan ikatan tumbuhan paku sebagai kesatuan utuh.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Tambang Kehancuran

Jumat, 11 Februari 2022 | 07:00 WIB

BRI Kendari Kucurkan KUR Usaha Ikan Asap

Rabu, 9 Februari 2022 | 18:15 WIB

Siapa Pasangan Ideal Anies?

Rabu, 9 Februari 2022 | 10:30 WIB

Dari Demokrasi Elite ke Demokrasi Akar Rumput

Senin, 7 Februari 2022 | 17:35 WIB

Berebut Anies Baswedan

Kamis, 3 Februari 2022 | 11:10 WIB

Terlempar Dari PBNU, Akankah Suara PKB Gembos?

Rabu, 2 Februari 2022 | 09:30 WIB

Anies Menguat, Semua Merapat

Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB

Indonesia Akan Dikepung Relawan Anies

Kamis, 27 Januari 2022 | 13:10 WIB

Mampukah PKS Menjadi Partai Papan Atas?

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:05 WIB

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB

Gravitasi Versus Gratifikasi

Senin, 24 Januari 2022 | 10:15 WIB

Manuver Cawapres Tak Kalah Gesit Dengan Capres

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:15 WIB

Prabowo Gagal Nyapres, Gerindra Nyungsep

Senin, 17 Januari 2022 | 10:15 WIB

Penyesuaian Tarif KRL Jabodetabek Untuk Keadilan

Minggu, 16 Januari 2022 | 19:50 WIB

Terima Kasih Presiden Jokowi

Sabtu, 15 Januari 2022 | 10:00 WIB

Merawat dan Meruwat Alun-Alun Kota Sukabumi

Kamis, 13 Januari 2022 | 13:20 WIB

Sasaran PSI Bukan Anies, Tapi Konstituen PDIP

Senin, 10 Januari 2022 | 11:30 WIB

Anies Paling Berpeluang Jadi Presiden 2024-2029

Sabtu, 8 Januari 2022 | 10:00 WIB
X