• Selasa, 16 Agustus 2022

Tukang Karikatur dan Gapura Lapang Merdeka Kota Sukabumi

- Senin, 10 Januari 2022 | 10:30 WIB
Kang Warsa - Penulis
Kang Warsa - Penulis

Pertama, kecuali didasari oleh filosofi dan makna besar dan penginterpretasiannya, sebagai sebuah desain, tumbuhan paku akan lebih mudah diaplikasikan atau dipindahruangkan dari konsep desain ke dalam beragam bentuk dimensi,  bukan hanya gapura sebagai portal masuk atau batas kota, juga dapat diaplikasikan ke dalam ornamen lain, hingga cinderamata berukuran kecil. Kedua, pembuatan desain tumbuhan paku dipengaruhi oleh cerita-cerita yang berkembang baik dalam skala kecil (Sukabumi) juga skala luas (Sunda). Pakuan dan cerita Paku Jajar di Gunung Parang menjadi satu landasan pembuatan desain tumbuhan paku ini. Dalam pengaplikasiannya, warga Kota Sukabumi dapat mengamati Gapura Lapang Merdeka merupakan ikatan tumbuhan paku sebagai kesatuan utuh.

Ketiga, simbol sebuah wilayah harus melekat erat dengan setiap linimasa kehidupan, ide-ide besar, dan hal yang sulit terjamah namun telah hadir sekian lama. Para leluhur Sunda memilih tumbuhan paku sebagai simbol kekuasaan sudah tentu berisi pesan moral keharusan manusia untuk melestarikan alam, mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan setiap perubahan namun tetap ajeg dan kokoh dalam menunjukkan jati dirinya. Harus diakui,konsep seperti ini memang terlalu melangit saat dihadapkan pada fakta yang terjadi. Karena itu, tidak salah jika tumbuhan paku ditanam di areal terbuka, termasuk di Lapang Merdeka sendiri.

Membayangkan kondisi Sukabumi jutaan tahun lalu sebenarnya tidak sulit jika kemelekatan dan keterikatan antara masa lalu dengan masa kini dapat dipadukan. Segalanya telah tertanam di dalam diri manusia Sukabumi pada kromosom yang memuat triliunan data masa lalu. Jutaan tahun lalu merupakan hamparan tumbuhan paku yang hidup bersama pohon-pohon tingkat tinggi lainnya. Bayangkan, diri kita memasuki belantara Sukabumi jutaan tahun lalu, manusia hanya merupakan spesies  yang berjalan mengendap-endap, merangkak di belantara gelap serta lembab, dan mewaspadai ancaman dari satwa lain yang dapat saja muncul secara tiba-tiba.

Sikap leluhur manusia seperti di atas telah terekam dalam diri mereka pada berkas-berkas yang disimpan dalam kromosom, kemudian diwariskan kepada anak cucunya. Bukankah setiap dari kita saat ini sering merasa takut ketika berada di kegelapan? Ketakutan atau lebih tepatnya kehatia-hatian masa lalu para leluhur manusia, secara mandiri diasosiasikan oleh sel-sel dalam tubuh dan menjelma menjadi ide rasa takut terhadap mahluk halus, roh jahat penunggu hutan, lantas diwujudkan dalam bentuk-bentuk menyeramkan. Manusia dapat terhindar dari rasa takut itu ketika mereka telah keluar dari belantara gelap dan menemukan tempat terbuka luas, ditumbuhi oleh tanaman melaut hijau. Bagaimana perasaan kita setelah keluar dari hutan belantara kemudian melihat areal persawahan luas dan menghijau ranau, nyaman bukan? Itulah yang dulu pernah di alami oleh para leluhur manusia di masa sebelum revolusi kognitif , 70.000  tahun lalu.

Revolusi kognitif ditandai oleh perubahan ukuran otak manusi. Ini memiliki arti semakin besar ruang penyimpanan berkas kehidupan. Agar tidak terlalu menakutkan, belantara dibuka dan dijadikan areal pemukiman, kebutuhan dasar terhadap makanan harus tetap tersedia tidak hanya mengandalkan berkah dari alam. Perubahan ukuran otak dan ruang penyimpanan pada leluhur manusia ini mengharuskan tindakan pembaharuan pada aplikasi-aplikasi yang telah lama tertanam dalam diri manusia. Jika pada periode sebelumnya mulut hanya digunakan untuk mengunyah makanan, di era revolusi kognitif ini mulut telah dimanfaatkan sebagai alat komunikasi efektif dalam bentuk pelafalan kata-kata. Alam sebagai labolatorium pembelajaran telah menjadi tempat bereksperimen leluhur manusia dalam beradaptasi.  Pertumbuhan ukuran ruang penyimpanan pada otak disebabkan oleh asupan nutrisi beragam makanan yang dikonsumsi oleh leluhur manusia.

Ketakutan terhadap binatang buas sebagai mahluk yang menempati piramida tertinggi rantai makanan dapat ditepis oleh manusia melalui koordinasi membangun komunita atau kelompok pada satu area. Leluhur manusia telah mempelajari dengan jumlah banyak dan menirukan suara-suara melalui mulut, binatang-binatang buas dapat mereka usir. Populasi manusia terus bertambah, revolusi pertanian yang terjadi 13.000 tahun lalu memaksa manusia memperluas lahan garapan. Koordinasi semakin cair, kehidupan terus berjalan memasuki lorong-lorong waktu. Maka, sejarah manusia pun sampai juga pada peradaban modern, kemajuan di bidang infotech. Bangunan beton  telah mengganti posisi tumbuh-tumbuhan. Manusia sudah tidak lagi harus mengendap-endap di belantara gelap, era telah semakin terbuka. Ciri manusia modern tidak lagi khawatir dan takut terhadap alam melainkan khawatir dan takut terhadap citra dirinya sendiri.

Serangkaian sejarah panjang leluhur manusia telah membawa kita pada milieu modern. Manusia modern seolah sudah tidak memerlukan lagi ikatan dengan alam karena mereka menganggap ikatan semacam itu merupakan bentuk animisme dan dinamisme. Di masa kini, manusia dapat saja merasa puas hanya dengan melihat gambar binatang langka tanpa perlu menyentuh wujud ragawinya. Teknologi melalui pirantinya telah mampu memindahkan realitas ke dunia virtual yang semakin padat oleh hunian. Para leluhur manusia dihantui oleh rasa takut terhadap binatang-binatang berukuran besar dan buas, sebaliknya manusia modern malahan dihantui oleh rasa takut terhadap mahluk renik bernama virus. 

Pemilihan simbol untuk sebuah wilayah,pada akhirnya bukan sebatas menampilkannya pada bentuk-bentuk statis. Melainkan harus berbanding lurus dengan pelestarian apapun yang dijadikan simbol tersebut. Rakyat Pajajaran di masa lalu patut diduga terkagum-kagum oleh hamparan tumbuhan paku sepanjang jalan menuju kerajaan. Seperti halnya warga Kota Sukabumi yang  berbahagia saat melihat dan menikmati wajah baru Lapang Merdeka dengan beragam ornamennya.

Saya pun demikian dapat merasakan kebahagian warga Kota Sukabumi. Teman dekat saya, Nurwenda Juniarta (Jiwenk), tukang karikatur yang telah menginternasional ini akan lebih berbahagia lagi karena desain gapura tumbuhan paku telah berdiri dengan kokoh ibarat dua punggawa yang sedang mematung  tegak menyambut warga Kota Sukabumi saat memasuki Lapang Merdeka.  

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Pertumbuhan Negeri Khayal dan Ilusi Deflator

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 13:30 WIB

Tambang Kehancuran

Jumat, 11 Februari 2022 | 07:00 WIB

BRI Kendari Kucurkan KUR Usaha Ikan Asap

Rabu, 9 Februari 2022 | 18:15 WIB

Siapa Pasangan Ideal Anies?

Rabu, 9 Februari 2022 | 10:30 WIB

Dari Demokrasi Elite ke Demokrasi Akar Rumput

Senin, 7 Februari 2022 | 17:35 WIB

Berebut Anies Baswedan

Kamis, 3 Februari 2022 | 11:10 WIB

Terlempar Dari PBNU, Akankah Suara PKB Gembos?

Rabu, 2 Februari 2022 | 09:30 WIB

Anies Menguat, Semua Merapat

Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB

Indonesia Akan Dikepung Relawan Anies

Kamis, 27 Januari 2022 | 13:10 WIB

Mampukah PKS Menjadi Partai Papan Atas?

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:05 WIB

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB

Gravitasi Versus Gratifikasi

Senin, 24 Januari 2022 | 10:15 WIB

Manuver Cawapres Tak Kalah Gesit Dengan Capres

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:15 WIB
X